Survei: 95 Persen Wisatawan Selama Liburan Mencari Makanan
Survei MarkPlus Tourism mencatat 83,9 persen responden menilai saat ini adalah waktu yang tepat untuk mengampanyekan program responsible tourist. Harapannya ketika pandemi berakhir dan pariwisata kembali pulih, sudah tumbuh kesadaran masyarakat untuk berwisata yang bertanggung jawab.
Survei MarkPlus Tourism mencatat 83,9 persen responden menilai saat ini adalah waktu yang tepat untuk mengampanyekan program responsible tourist. Harapannya ketika pandemi berakhir dan pariwisata kembali pulih, sudah tumbuh kesadaran masyarakat untuk berwisata yang bertanggung jawab.
Senior Business Analyst MarkPlus Tourism, Azhari Fauzan mengatakan, survei ini dilakukan kepada pada 62 responden di seluruh Indonesia yang didominasi oleh masyarakat berusia 25 sampai 44 tahun.
"95,2 persen responden memahami perilaku responsible tourist sebagai upaya menjaga lingkungan kawasan destinasi. Dan menurut 71 persen dari mereka menilai untuk menjadi wisatawan yang bertanggung jawab harus berinteraksi langsung dengan masyarakat lokal yang akan dikunjungi," kata Azhari dalam diskusi strategis 'Redefining Sustainable Tourism Roadmap', Selasa (9/3).
Namun, kontribusi untuk mencapai visi tersebut tidak bisa jika hanya dilakukan oleh pemerintah saja. Melainkan perlu adanya kolaborasi antara pemerintah, pengelola destinasi wisata, masyarakat lokal, hingga travel influencer.
Di mana 80,6 persen responden juga menganggap bahwa untuk mendorong kampanye sustainable tourism para wisatawan perlu mengunggah pengalaman berwisata melalui media sosial setelah berkunjung ke suatu destinasi. Tidak hanya mempromosikan tempat wisata tetapi juga ekonomi kreatif (ekraf) di sekitarnya.
Azhari menyebut, mayoritas wisatawan mencari produk ekonomi kreatif seperti kuliner (93,5 persen), kerajinan tangan (72,6 persen), seni pertunjukan (59,7 persen), dan fesyen seperti kain batik (50 persen) saat berkunjung ke tempat wisata.
"Sehingga, penting bagi pelaku usaha ekraf untuk meningkatkan kualitas produknya agar bisa semakin berkembang. Produk ekraf yang menarik harus memiliki story telling, artinya harus ada unsur cerita yang bisa disajikan kepada publik. Selain itu, kemasan yang menarik juga menjadi perhatian wisatawan,” jelasnya.
Azhari menegaskan, program pemerintah dalam meningkatkan daya saing pada produk ekraf di kawasan wisata yang dirasa paling tepat adalah melalui pelatihan dan pembinaan (93,5 persen) agar produk yang dihasilkan sesuai dengan standar wisatawan.
"Selain itu, pelaku usaha ekraf juga perlu mempertahankan konsistensi kualitas produk agar wisatawan bisa memberikan rekomendasi dan berujung pada peningkatan penjualan," pungkasnya.
Menteri Sandi Tingkatkan Daya Tarik Pariwisata Lewat Energi Terbarukan
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), Sandiaga Salahuddin Uno, akan menerapkan konsep quality and sustainable tourism dalam upaya memulihkan pariwisata dan ekonomi kreatif yang terdampak pandemi covid-19.
Caranya dengan mengubah destinasi-destinasi sebelumnya menjadi ramah lingkungan menggunakan energi baru terbarukan. Sehingga para wisatawan mancanegara maupun nusantara menjadi nyaman ketika berwisata.
"Kita kelola dalam dua tahapan, jangka pendek dan jangka menengah panjang. Jangka pendek fokusnya di wisatawan nusantara sebagai awal kebangkitan. Jangka menengah panjang kita menjadi destinasi pilihan di Asia Tenggara untuk wisatawan mancanegara dengan konsep quality and sustainable tourism," kata Sandiaga Uno dalam diskusi MarkPlus, Inc. strategis Redefining Sustainable Tourism Roadmap, Selasa (9/3).
Dia menegaskan, pihaknya tidak akan mengejar angka kunjungan wisatawan mancanegara dan nusantara, melainkan akan lebih menekankan pada kualitas kunjungannya.
"Kita tidak akan kejar lagi angka-angka, wah salah kemarin ngejar angka-angka, kita kerjanya kualitas saja. Standing dan dampak terhadap lingkungan juga bagaimana mengubah destinasi-destinasi ini ramah lingkungan menggunakan energi baru terbarukan," ujarnya.
Reporter: Tira Santia
Sumber: Liputan6
(mdk/bim)