Sulit Berkembang, Produk Lokal Minim Ruang Unjuk Kemampuan
Co-Founder dan CEO dari ruang publik M Bloc Space, Handoko Hendroyono, memaparkan bahwa masyarakat kurang percaya diri dalam mengandalkan kreativitas. Oleh karena itu, setiap orang kreatif membutuhkan etalase untuk membangun dan mempromosikan merek mereka guna mendukung mereka dalam menyebarkan kreativitasnya.
Co-Founder dan CEO dari ruang publik M Bloc Space, Handoko Hendroyono, memaparkan bahwa masyarakat kurang percaya diri dalam mengandalkan kreativitas. Oleh karena itu, setiap orang kreatif membutuhkan etalase untuk membangun dan mempromosikan merek mereka guna mendukung mereka dalam menyebarkan kreativitasnya di tempat yang inklusif.
"Saya melihat tidak ada ruang untuk brand lokal, mereka ini sebenarnya punya kemampuan untuk maju, tapi tidak ada peluangnya karena tidak dibuka kesempatannya," ujar Handoko dalam webinar Ideafest bertajuk 'The Place Economy: Revamping Community Spaces to Enhance Quality of Life' pada Sabtu (14/11).
Sementara itu, tingkat frustasi anak muda juga meningkat karena tidak adanya ruang publik untuk berekspresi. Kebanyakan anak muda sekarang memilih untuk menghabiskan waktu di mal, sehingga tidak ada ruang yang benar-benar 'ramah' bagi publik.
Masalah ini dilihat Handoko sebagai sebuah urgensi untuk membangun sebuah ruang publik yang tidak hanya bisa ramah untuk publik, tetapi juga dapat menjadi etalase untuk produk lokal.
"Ruang publik ini nantinya bisa menjadi sarana partisipasi publik. Karena, partisipasi publik ini harus didorong. Kalau tidak didorong, brand lokal tidak bisa berkembang, dipinggirkan, dan akhirnya orang-orang kreatif tidak dapat mendapat ruang untuk berkarya," imbuh Handoko.
Adapun, orang-orang kreatif mempunyai ciri khas masing-masing. Ada yang berkecimpung di dunia musik, film, arsitek, sampai kuliner. "Contohnya adalah arsitek, dia akan memiliki peran untuk justru menghidupkan aset sosial yang kita punya di sebuah tempat," tambahnya.
Bagi Handoko, Indonesia perlu membuat 'ombak' sendiri. Bukan hanya sebagai bentuk jargon 'Indonesian Wave'. Namun, juga bagaimana hal ini bisa dilihat sebagai peluang untuk memajukan ekonomi Indonesia ke depan.
Sayangnya, masih banyak insan kreatif yang belum sepenuhnya nyaman berekspresi dalam menunjukkan karyanya. Oleh karena itu, suatu tempat tidak hanya butuh fasilitas yang memadai, tetapi juga cerita yang menopang di baliknya.
"Soul kita ini banyak sekali, literasi kita tentang film begitu kaya, tapi kita dilupakan. Dan ketika enyahkan, berarti kita menutup literasi. Artinya, sebenarnya harusnya relatif mudah membangun story telling di space itu," ujarnya.
Lokasi Menentukan Prestasi
Selain cerita yang perlu ditambahkan, arsitek sekaligus founder AT-LARS, Stephanie Larasati menyampaikan bahwa sebuah tempat yang berhasil adalah tempat yang mampu mengakomodir keberagaman, di mana banyak orang yang bisa lepas dari etnis maupun latar belakangnya. Dengan begitu, masyarakat akan merasa lebih bebas untuk masuk dan berekspresi di tempat tersebut.
"Tentu tempat yang berhasil juga merupakan tempat yang atraktif dan nyaman untuk didatangi atau kita berlama-lama di situ, dan kalau misalnya ngomong dalam ranah ekonomi kreatif, tempat yang mampu menciptakan sebuah roda ekonomi berputar," tambah Stephanie.
Dalam menciptakan tempat yang ideal tersebut, sebagai seorang arsitek, dia selalu melihat konteks dan cerita dari tempat tersebut. "Kadang, kita suka lupa tentang sejarah di mana kita berada, padahal sejarah penting untuk mengenal kita berada di mana sih sekarang. Ketika kita mengenal sebuah tempat, kita akan lebih bebas dan berimajinasi tentang apa yang kita butuhkan ke depannya. Hal ini kemudian akan berdampak ke seluruh kota untuk menjadi lebih baik," papar Stephanie.
Reporter Magang: Theniarti Ailin
(mdk/bim)