Sri Mulyani soal Rupiah anjlok ke Rp 15.200-an per USD: Dinamika AS masih mendominasi
Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, melemahnya Rupiah disebabkan adanya kenaikan imbal hasil (yield) obligasi AS (T-bond) tenor 10 tahun telah melewati 3 persen.
Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (USD) bergerak melemah di perdagangan hari ini, Senin (8/10). Rupiah dibuka di level Rp 15.194 atau melemah tipis dibanding penutupan minggu lalu di level Rp 15.183 per USD.
Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, melemahnya Rupiah disebabkan adanya kenaikan imbal hasil (yield) obligasi AS (T-bond) tenor 10 tahun telah melewati 3 persen.
"Kan hari ini kalau kita lihat data di AS yang dipicu oleh yield 10 tahun bond AS yang meningkat luar biasa tajam sudah di atas 3,4 persen," kata dia, di Lokasi IMF-World Bank Annual Meeting, Bali, Senin (8/10).
Dia menjelaskan, kenaikan yield obligasi di atas 3 persen ini kemudian memberikan efek psikologis kepada pasar global. Sebelumnya, 'level psikologis' kenaikan yield obligasi AS tenor 10 tahun sebesar 3 persen
"Ini unpresidented selama ini, jadi kita melihat dinamika ekonomi AS itu masih sangat mendominasi dan pergerakannya cepat sekali, kalau dulu tresshold psikologisnya 10 tahun bonds AS, 3 persen," ujarnya.
Karena itu, Mantan Direktur Bank Dunia ini mengatakan kenaikan yield obligasi AS tenor 10 sebesar 3,4 persen, tentu menciptakan pergerakan di nilai tukar mata uang global, termasuk Rupiah.
"Jadi pas mereka mendekati 3 persen memunculkan apa yang disebut reaksi dari seluruh nilai tukar dan suku bunga internasional, sekarang sudah lewat 3 persen," tandas dia.
Baca juga:
Rupiah terus anjlok di level Rp 15.233 per USD
Ajak bahu-membahu, Koalisi Jokowi hentikan politisasi pelemahan rupiah
Prabowo ingatkan prospek ekonomi Indonesia rawan
Bayar utang dan stabilkan Rupiah, cadangan devisa merosot jadi USD 114,8 miliar
Sri Mulyani soal Rupiah Rp 15.100 per USD: Ini karena ekonomi AS makin kuat
Pemerintah dinilai jujur tetapkan asumsi Rupiah Rp 14.500 per USD dalam APBN 2019