LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. UANG

Sri Mulyani: Indonesia Tak Boleh Abaikan Kemungkinan Risiko Resesi

Presiden Joko Widodo (Jokowi) sering dan berulang kali menyebutkan ekonomi dunia akan gelap di 2023, bahkan sebanyak 28 negara meminta pertolongan kepada IMF untuk dibantu perekonomiannya. Untuk itu, Indonesia tidak boleh mengabaikan kemungkinan peningkatan risiko resesi.

2022-10-13 10:01:18
Resesi Ekonomi
Advertisement

Presiden Joko Widodo (Jokowi) sering dan berulang kali menyebutkan ekonomi dunia akan gelap di 2023, bahkan sebanyak 28 negara meminta pertolongan kepada IMF untuk dibantu perekonomiannya. Untuk itu, Indonesia tidak boleh mengabaikan kemungkinan peningkatan risiko resesi.

"Kita tidak boleh mengabaikan kemungkinan peningkatan risiko resesi. Tujuan adanya Presidensi G20 Indonesia ini menjadi bumper kami untuk pulih bersama, pulih lebih kuat tetap lebih relevan dari sebelumnya," kata Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam 4th Finance Ministers and Central Bank Governors (FMCBG) Meeting, di Washington, D.C, Amerika Serikat, Kamis (13/10).

Sri Mulyani meyakini Presidensi G20 ini merupakan harapan untuk membantu semua negara dalam menavigasi gelombang krisis yang akan dihadapi seluruh dunia. Dengan adanya presidensi G20 ini mampu berhasil dalam merespon berbagai krisis termasuk krisis keuangan global.

Advertisement

"Semua tahu dari pertemuan sebelumnya bahwa saya benar-benar percaya bahwa G20 adalah Beacon of Hope, yang dapat membantu kita menavigasi gelombang krisis yang menghancurkan yang kita hadapi. Keyakinan ini didasarkan pada sejarah keberhasilan G20 dalam merespon krisis keuangan global dan belakangan ini," imbuhnya.

Menurutnya, tantangan ekonomi global yang kompleks ini tidak dapat diselesaikan oleh satu negara atau sekelompok negara yang bertindak sendiri. Dibutuhkan tindakan kolektif dari kelompok yang menguasai 85 persen perekonomian dunia.

"Dibutuhkan kelompok dengan perwakilan paling beragam untuk memastikan semua suara didengar. Semua negara dengan pengaruh ekonomi global sistemik harus terlibat dalam mencari solusi negara maju, menengah, dan juga negara berkembang," jelasnya.

Advertisement

Tentu hal ini tidak mudah, mengingat keanggotaan G20 yang beragam, di mana setiap anggota negara G20 selalu memiliki perbedaan posisi, pandangan, dan pengalaman. Tetapi perbedaan ini juga memungkinkan untuk menemukan solusi inklusif terbaik untuk seluruh dunia.

Indonesia sebagai tuan rumah Presidensi G20 telah mampu menavigasi G20 untuk mempertahankan keanggotaan penuh, serta soliditas dalam memecahkan masalah paling kritis yang dihadapi ekonomi global kita.

"Kita harus bersatu dan tetap teguh dalam komitmen kita untuk memecahkan masalah ekonomi global yang paling mendesak dalam pertemuan kita hari ini dan besok, kita memiliki kesempatan terakhir pada tahun 2022 untuk memberikan tindakan nyata. Kesempatan terakhir kami untuk terus mendominasi untuk menunjukkan, semangat kolaborasi dan kerjasama multilateralisme," tandasnya.

Reporter: Tira Santia

Sumber: Liputan6.com

Baca juga:
Ada Ancaman Resesi, Indonesia Bakal Masuk Daftar Pasien IMF?
Menteri Bahlil Optimis Indonesia Tak akan Masuk Daftar Pasien IMF
Ekonomi Dunia Anjlok, Ada Negara Maju Masuk Daftar Pasien IMF
Joe Biden Soal Resesi AS: Itu Belum Terjadi
IMF Pangkas Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Global di 2023 Jadi 2,7 Persen
Erick Thohir Yakin RI Bisa Masuk 5 Negara Ekonomi Terbesar Dunia

(mdk/azz)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.