Singapura: Pengembangan Riset Tetap Dibutuhkan Meski Negara Alami Krisis
Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Koordinator Bidang Kebijakan Ekonomi Singapura, Heng Swee Keat menekankan, sektor riset dan pengembangan atau research and development (R&D) tak boleh ditinggalkan negara maju, meskipun ekonominya sedang terpuruk akibat krisis.
Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Koordinator Bidang Kebijakan Ekonomi Singapura, Heng Swee Keat menekankan, sektor riset dan pengembangan atau research and development (R&D) tak boleh ditinggalkan negara maju, meskipun ekonominya sedang terpuruk akibat krisis.
Sebab, kendala fiskal di masa krisis seperti pandemi Covid-19 lalu menyebabkan sejumlah negara memangkas investasi untuk bidang R&D. Negara maju atau perusahaan sukses memandang investasi di bidang tersebut bukan sesuatu yang bisa ditawar, karena untuk keunggulan kompetitif yang bertahan lama.
"Sokongan untuk dana investasi penting untuk membuat dobrakan baru di samping untuk bertahan. Itu mengapa di hampir setiap negara maju ada lembaga yang tetap mendorong inovasi atau R&D," ujar Heng dalam IBM Think on Tour 2022 Singapore Conference di Marina Bay Sands Convention Centre, Singapura, Kamis (2/6).
Dia menjelaskan, Singapura yang ingin jadi pusat bisnis, teknologi, dan teknologi berinvestasi besar pada sektor R&D. Di tengah-tengah masa pandemi Covid-19 pada akhir 2020 lalu, Pemerintah Negeri Singa tetap mengucurkan dana SGD 25 miliar, atau setara Rp 264 triliun untuk alokasi riset, inovasi dan kewirausahaan selama 5 tahun ke depan.
Itu dilakukan dalam upaya berkelanjutan guna memanfaatkan sains dan teknologi, agar Singapura bisa lebih tangguh, berkelanjutan, digital, dan menciptakan lebih banyak peluang pasca pandemi Covid-19.
Hal sebaliknya justru dilakukan Pemerintah RI selama masa pandemi. Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang kala itu fokus menangani pandemi harus rela memangkas anggaran yang tidak sedikit untuk bidang penelitian. Seperti untuk Kementerian Riset dan Teknologi, di mana alokasinya terpotong hingga 94 persen, dari Rp 42,16 triliun menjadi hanya Rp 2,47 triliun.
Reporter: Maulandy Rizky Bayu Kencana
Sumber: Liputan6.com
Baca juga:
Pemerintah dan Pelaku Usaha Harus Responsif Hadapi Krisis Ekonomi
Konsumsi Rumah Tangga di 2023 Ditargetkan Tumbuh Hingga 5,4 Persen
Digitalisasi Toko Kelontong Diyakini Mampu Dorong Ekonomi Nasional
Menteri Sri Mulyani Waspadai Kegiatan Jalan-Jalan Keluar Negeri Orang Kaya RI
Indikator Pemulihan Ekonomi RI Terkini Versi Menteri Sri Mulyani
Pemerintah Terus Waspadai Dampak Lockdown di China