Gerai 7-Eleven tutup, mendag bikin formula jaga industri ritel lokal
Secara umum, kondisi bisnis ritel di Indonesia saat ini cukup baik
Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengaku tengah menyusun formula guna menjaga persaingan sehat di pasar ritel Indonesia. Ini agar semua pelaku usaha ritel di Tanah Air, baik tradisional maupun modern, bisa bertahan hidup.
"Jadi nanti mereka wajib menyediakan satu distribusian Centre yang harga perolehan dari warung atau pedagang tradisional harus sama atau lebih rendah dari alfamart dan indomaret. Indomaret sudah dilakukan dengan ada Indogrosir di Tangerang. Prinsipnya harus berikan akses yang sama pada pedagang menegah ke bawah," katanya disela kunjungan di Pasar Sarijadi Kota Bandung, Rabu (28/6).
Secara umum, lanjutnya, kondisi bisnis ritel di Indonesia saat ini cukup baik. Kendati demikian, pelaku usaha ritel tetap dituntut untuk melakukan inovasi.
"Itu kalau nggak ada inovasi dan perluasan bisa tutup," katanya. "Indomaret dan Alfamart head to head, apakah bisa kami larang dan menyebabkan karyawan kehilangan pekerjaan, kan tidak. Tapi bagaimana indomaret dan warung itu juga hidup. Itu kita cari akal."
Terkait berhenti operasinya gerai jaringan 7-eleven di Indonesia, Enggartiasto memastikan itu bukan dampak dari keputusan pemerintah melarang penjualan minuman alkohol. Dia meyakini bangkrutnya gerai waralaba Jepang tersebut lantaran persoalan internal.
"Nggak bisa dikaitkan itu. Tidak bisa satu toko tutup karena tidak boleh menjual satu jenis. Pihak 7-eleven tidak pernah juga disampaikan karena itu," katanya.
"Ini murni judgement dari pemegang saham, mengapa harus tutup. Karena mereka ada perhitungan sendiri. "
Meski tak akan melakukan intervensi, Enggartiasto berencana bertemu bos PT Modern Internasiona, selaku pemegang franchise 7-Eleven di Indonesia.
"Dengan jumlah karyawan begitu besar, saya ingin tanya kenapa tutup? Tapi saya yakin itu murni internal saja."
(mdk/yud)