LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. UANG

September-Oktober, pendapatan pengusaha ritel anjlok

Per September-Oktober terjadi penurunan 4-5 persen yang disebabkan siklus ritelnya. Tidak hanya itu, beberapa hari menjelang demonstrasi Kasus Penistaan Agama pada (4/11) lalu juga mempengaruhi daya beli konsumsi masyarakat.

2016-11-28 11:31:32
Bisnis Ritel dan Waralaba
Advertisement

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Retail Indonesia (Aprindo), Roy Mandey mengakui pendapatan pengusaha ritel mengalami penurunan selama September dan Oktober lalu. Salah satu penyebabnya adalah siklus belanja masyarakat yang melemah pada waktu tersebut.

"Per September-Oktober terjadi penurunan 4-5 persen. Penyebabnya itu siklus ritelnya. Maret-April dan September-Oktober itu titik rendah industri ritel," ujarnya kepada merdeka.com saat ditemui di kawasan Sarinah, Jakarta, Senin (28/11).

Tidak hanya itu, beberapa hari menjelang demonstrasi Kasus Penistaan Agama pada (4/11) lalu juga mempengaruhi daya beli konsumsi masyarakat. Masyarakat enggan membelanjakan uangnya karena kekhawatiran terhadap aksi tersebut.

Advertisement

"Adanya sentimen market terhadap situasi yang bergejolak. Seperti demo kemarin. Tapi sebelumnya masyarakat sudah tahu kan. Jadi mereka menahan transaksi. Jadi ada rumor berkaitan politik, ekonomi makro atau peraturan baru itu sentimen masyarakat ke market begitu," jelas dia.

Selain itu, buruknya kondisi cuaca yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir juga mempengaruhi anjloknya pendapatan perusahaan ritel. Sebab, sejumlah komoditi harus mengalami gagal panen.

"Sama dipicu cuaca buruk sehingga gagal panen di beberapa komoditi. Terakhir global impact yang belum menunjukkan kepada recovery."

Advertisement

Meski demikian, Aprindo menargetkan pendapatan sebesar Rp 20 triliun hingga akhir tahun ini. Jumlah tersebut meningkat dibanding tahun sebelumnya sebesar Rp 18 triliun.

Roy Mandey menilai realistis jika melihat pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini sebesar 5,02 persen.

"Peningkatan kita harapkan bisa 10 persen, tahun lalu 8 persen atau Rp 18 triliun. Kalau lihat dari pertumbuhan sekarang realistis lah. Karena pertumbuhan kita lebih baik dibanding beberapa negara lain."

Peningkatan pendapatan diharapkan didorong oleh konsumsi rumah tangga yang membaik. Menurutnya, di akhir tahun akan terjadi peningkatan konsumsi karena adanya perayaan libur akhir tahun dan Natal.

"Peningkatan didorong oleh liburan, natal dan tahun baru. Konsumsi rumah tangga yang meningkat. Karena liburan banyak banget yang beli. Kemudian perayaan kan jadi extra konsumtif," tandasnya.

Baca juga:
Pujian dan tips rahasia Presiden Jokowi guna kemajuan pengusaha muda
White Cincau, minuman sehat sekaligus bikin untung hingga Rp 33 juta
Asosiasi sebut waralaba asing di Indonesia masih mendominasi
Jadi juragan kebab dengan modal Rp 5 juta, ini caranya
Pemerintah klaim peta jalan waralaba Indonesia rampung 2017

(mdk/idr)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.