Selalu setor modal, Indonesia masih butuh Bank Dunia dan IMF
Hatta menilai wajar bila pemerintah menambah besaran penyertaan modal di lembaga-lembaga keuangan internasional.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa menilai wajar bila pemerintah menambah besaran penyertaan modal di lembaga-lembaga keuangan internasional, seperti Dana Moneter Internasional (IMF) atau Bank Dunia.
Alasannya, lembaga tersebut merupakan instansi multilateral yang mengelola perekonomian global. Jika situasi dunia dapat dijaga stabil, alhasil Indonesia akan ikut memperoleh manfaat.
"Itu artinya IMF mengatasi perekonomian dunia. Kalau ekonomi membaik, kita kan diuntungkan," ujarnya selepas mengikuti Konferensi Nasional Pemberantasan Korupsi di Jakarta, Rabu (4/12).
Selain itu, pemerintah sudah turut terikat komitmen bersama negara-negara lain buat menanamkan modal di lembaga keuangan internasional.
Hatta melihatnya sebagai posisi yang tetap menguntungkan, karena artinya Indonesia merupakan pemegang saham IMF, Bank Dunia, dan semacamnya. Melihat pentingnya fungsi lembaga-lembaga asing itu, mantan menteri perhubungan ini percaya keikutsertaan modal dari Indonesia harus dipertahankan.
"Itu kan ada semacam komitmen kewajiban, semacam shareholder. Pemegang saham IMF atau Bank Dunia. Kita masih perlu," tandasnya.
Sebelumnya, dalam rapat bersama Komisi XI DPR, Kementerian Keuangan memperoleh lampu hijau buat menambah modal ke lima lembaga keuangan internasional, senilai Rp 1,02 triliun dari APBN 2014.
Beberapa di antaranya adalah International Bank for Reconstruction dan Development (IBRD), anak usaha Bank Dunia, sebesar Rp 172 miliar. Ada pula tambahan modal di Asian Development Bank (ADB) sebesar Rp 337 miliar.
Wakil Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro mengingatkan bahwa setoran ke lembaga seperti Bank Dunia atau Asian Development Bank (ADB) jangan sampai dianggap sebagai beban. Sebab, langkah ini justru menguntungkan pemerintah.
"Ini sama dengan pemerintah taruh duit di BUMN, investasi. Kita itu pemilik, kita satu dari sekian banyak negara negara pemilik Bank Dunia, ADB, kita mendapat manfaatnya," kata Bambang.
(mdk/bim)