Selain daging, jeroan sapi juga dimakan masyarakat Eropa
Sejak dulu, jeroan hanya dimakan oleh para pejabat dan masyarakat kaya.
Direktur Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian I Ketut Diarmita, menilai daging jeroan bukan untuk makanan hewan. Sebab, jeroan juga banyak dikonsumsi oleh masyarakat Eropa.
"Dan yang makan jeroan sebenarnya bukan hanya kita di Indonesia . Di Eropa, seperti Italia, Spanyol, Turki, Korea, Jepang masih makan jeroan," ujarnya di kantor Kementan, Ragunan, Selasa (19/7).
Secara kultur, kata Ketut, masyarakat Indonesia sudah menjadi budaya dalam mengkonsumsi jeroan. Bahkan, sejak dulu, jeroan hanya dimakan oleh para pejabat dan masyarakat kaya.
"Artinya, sebenarnya dari dulu tidak jadi masalah. Bahkan, jeroan makanan kelas tinggi," katanya.
Dia menjelaskan, impor jeroan tak bisa dicegah. Alasannya, kebutuhan daging khususnya di Jabodetabek. Di sisi lain, tugas dari Kementan menjaga harga daging sapi Rp 80.000 per kg. Dengan banyaknya permintaan harga jadi fluktuatif, sehingga impor jeroan sangat dibutuhkan.
"Akhirnya, masyarakat kita beri pilihan, ada daging segar, frozen dan jeroan. Sebetulnya kalau impor sapi bakalan kita sekaligus impor jeroan. Karena selain kulit kan ada jeroan juga. Sekian ribu jeroan itu, dan kita makan bukan dibuang," pungkasnya.
Sebelumnya, Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Tulus Abadi mengatakan, rencana impor jeroan sapi merendahkan martabat bangsa Indonesia.
"Jeroan di negara-negara Eropa dipakai untuk makanan anjing dan tidak layak untuk dikonsumsi manusia," kata Tulus seperti ditulis Antara, Rabu (13/7).
(mdk/sau)