Sektor Pariwisata Hingga Penjualan Kendaraan Bermotor Naik di 2022
Ekonomi Indonesia sepanjang tahun 2022 tumbuh 5,31 persen (yoy). Tingginya pertumbuhan tersebut ditopang dari daya beli masyarakat yang terjaga di tahun 2022 seiring dengan menguatnya aktivitas ekonomi masyarakat.
Ekonomi Indonesia sepanjang tahun 2022 tumbuh 5,31 persen (yoy). Tingginya pertumbuhan tersebut ditopang dari daya beli masyarakat yang terjaga di tahun 2022 seiring dengan menguatnya aktivitas ekonomi masyarakat.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat berbagai aktivitas konsumsi masyarakat meningkat. Mulai dari penjualan mobil penumpang yang mengalami pertumbuhan hingga 10,87 persen (yoy). Diikuti penjualan sepeda motor yang naik hingga 24,15 persen (yoy).
Begitu juga dengan nilai transaksi uang elektronik, kartu debit dan kredit yang tumbuh 0,66 persen (yoy). Inflasi moderat dan tetap terkendali yang ditutup pada level 5,51 persen di Desember 2022 lalu.
"Konsolidasi ini berkaitan dengan produktivitas yang semakin membaik di tahun 2022," kata Kepala BPS Margo Yuwono di Gedung BPS, Jakarta Pusat, Senin (6/2).
Dari sisi mobilitas dan sektor pariwisata di tahun 2022 juga semakin menunjukkan tren pemulihan. Margo menyebut jumlah penumpang di seluruh moda transportasi mengalami perbaikan. Baik secara tahunan maupun secara kumulatif.
Jumlah kunjungan wisatawan mancanegara juga naik hingga 384,12 persen. Angka ini meningkat hingga 251,28 persen (ctc). Indikator pulihnya sektor pariwisata juga terlihat dari tingkat hunian kamar pada hotel berbintang yang mengalami peningkatan.
"Rata-rata hunian kamar hotel bintang meningkat 620 persen (yoy) dan 11,54 persen (ctc) sepanjang tahun 2022," kata dia.
Pulihnya sektor pariwisata ini tidak terlepas dari dibukanya kembali hampir seluruh bandar udara internasional. Kemudian adanya penyelenggaraan kegiatan-kegiatan level internasional dan pelonggaran aktivitas masyarakat pada hari raya keagamaan.
"Ini semua mendorong peningkatan aktivitas ekonomi masyarakat sepanjang tahun 2022," ujarnya.
Di sisi lain sepanjang tahun 2022 aktivitas produksi menunjukkan adanya kinerja ekspansif. Tercermin dari Prompt Manufacturing Index Bank Indonesia yang masih ekspansif mencapai 50,06 pesen. Angka ini sedikit lebih rendah dari capaian di kuartal IV-2021 yang mampu mencapai 50,17 persen.
Meski begitu, impor bahan baku dan barang modal selama tahun 2022 mengalami pertumbuhan. Masing-masing 23,04 persen (yoy) untuk impor bahan baku dan 26,99 persen (yoy) untuk barang modal. Namun untuk impor barang konsumsi mengalami penurunan 1,74 persen (yoy).
"Jadi impor bahan baku dan barang modal ini menunjukkan sektor dalam negeri mengalami ekspansif," kata dia.
Meningkatkan aktivitas produksi tersebut mendorong penjualan listrik mengalami peningkatan sebesar 2,70 persen (yoy) dan 6,26 persen (ctc). Peningkatan ini didorong oleh penggunaan listrik untuk segmen bisnis.
"Kenaikan konsumsi listrik untuk segmen bisnis ini artinya aktivitas dalam negeri yang meningkat," kata dia.
Kapasitas produksi terpakai industri pengolahan di kuartal IV-2022 sebesar 71,15 persen. Angka ini lebih tinggi dibandingkan tahun lalu pada periode yang sama sebesar 69,53 persen.
Berbagai capaian tersebut juga disokong oleh konsolidasi kebijakan fiskal dan moneter yang kuat. Beberapa di antaranya yakni penyaluran perlindungan sosial tambahan dari pemerintah seperti Bantuan Langsung Tunai (BLT) saat terjadi kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi, Bantuan Subsidi Upah (BSU) dan dukungan program sosial lain yang menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
Peningkatan realisasi subsidi energi juga naik hingga 22,41 persen (ctc) dan tingkat suku bunga acuan yang mengalami peningkatan. Semula 4,25 persen pada bulan September 2022 menjadi 5,50 persen di bulan Desember 2022.
Baca juga:
Ekonomi RI 2022 Tumbuh 5,31 Persen, Tertinggi Sejak Dipimpin Jokowi
Ekonomi Pulih, Konsumsi Rumah Tangga di 2022 Meroket Hingga 4,93 Persen
Tumbuh 5,31 Persen, Ekonomi RI di 2022 Kembali Seperti Sebelum Pandemi
BPS Bongkar Fakta Suku Bunga Acuan Bank Indonesia Harus Naik
Pemerintah Diminta Cermat Agar Kebijakan Baru Tak Kerek Inflasi
BPS: Harga Pangan Terus Melambung Akibat Indonesia Masih Bergantung Impor