LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. UANG

Sekali pecat, kamar kos hasil utang ikut tamat

Warga di sekitar pabrik ikut merasakan gundah. Sebagian malah stres melebihi para pekerja.

2014-06-02 08:38:00
PHK Sampoerna
Advertisement

Bukan hanya 4.900 buruh pabrik PT Hanjaya Mandala (H.M) Sampoerna di Jember dan Lumajang, Jawa Timur, pusing memikirkan nasib mereka setelah dipecat per 16 Mei lalu. Warga di sekitar pabrik ikut merasakan gundah. Sebagian malah stres melebihi para pekerja.

Wulan, 38 tahun, warga bermukim persis di depan pabrik Sigaret Kretek Tangan Sampoerna, di Jalan raya Kunir, Lumajang, mengaku baru saja menebus Bukti Pemilikan Kendaraan Bermotor (BPKB) dari rentenir. Dia terpaksa melakukannya, supaya satu-satunya sepeda motor yang dimiliki keluarga tidak ikut hilang.

Ibu dua anak ini bukan buruh pelinting. Dia terlanjur menjaminkan sepeda motor untuk memperluas kamar kos di rumahnya. Pabrik itu menyerap pekerja tidak hanya dari Lumajang. Sebagian datang dari Probolinggo, Jember, dan Bondowoso, puluhan kilometer jaraknya.

Advertisement

Kepada merdeka.com, dia awalnya berharap banyak dari pabrik rokok kretek non-filter itu dari usaha kos. "Tapi bagaimana lagi, belum sempat balik modal, malah pabriknya ditutup,"  ujarnya dengan nada pelan, di depan toko kelontongnya, Sabtu (31/5).

Hitungan awalnya, Wulan yakin bisa untung besar cukup dengan mematok tarif sewa satu kamar kos Rp 100.000 per bulan. Toh pabrik itu kontrak lahannya masih lima tahun lagi. Artinya warga banyak yang meyakini Sampoerna masih bercokol di Lumajang minimal hingga 2017. "Buat renovasi awal saya kadung jual dua motor matic saya," ungkapnya.

Selain kos, Wulan juga sudah berinvestasi cukup banyak membangun toko kelontong. Dia sekaligus menyewakan lahan seluas 200 meter persegi di depan rumah untuk parkir sepeda motor para buruh.  Kini papan bertuliskan 'terima parkir' berwarna pink itu teronggok berdebu.

Advertisement

Parkir adalah bisnis lain langsung meredup setelah penutupan dua pabrik SKT itu. Terutama di pabrik Lumajang. Banyak warga menyewakan halaman depan rumah untuk jadi tempat parkir mobil omprengan. Kebetulan, pabrik ini menyerap tenaga kerja yang rumahnya jauh.

Dalam satu shift, warga bisa meraup Rp 200 ribu. Artinya, dalam sehari saja, yang memiliki halaman cukup luas menampung sepeda motor dan mobil bisa mengantongi Rp 400 ribu.

Faturokhim, 22 tahun,merasakan pukulan lebih getir. Dia otomatis menganggur menyusul istrinya yang pada 16 Mei terkena pemecatan massal. Pria ini sehari-hari berjualan minuman di depan pabrik di Garahan, Jember. Hanya dengan berjualan kopi, teh, dan menyeduh minuman serbuk kemasan, dia bisa meraup Rp 200 ribu per hari. "Kadang kalau pas rame masih pagi saja sudah dapat Rp 300 ribu,"  ungkapnya.

Sambil menunggu istrinya mendapat pesangon, Faturokhim mengaku akan kembali ke pekerjaan lamanya. "Dulu kadang ke sawah. Ya kalau tutup begini rencananya mau tani lagi."

Kodlik (40), warga lain yang langsung kehilangan pendapatan atas keputusan Sampoerna, bercerita mengenai nasib tragis kenalannya di Jember.  Kadung berutang puluhan juta Rupiah ke bank buat merehab rumah, baru beberapa hari selesai, kos 30 kamar itu jadi sia-sia. "Stres sekarang orangnya, wong pabrik di Jember baru setahun lebih. Dipikirnya masih lama (beroperasi)," tuturnya.

Di tengah kesedihan itu, Kodlik bersyukur tak pernah berutang terlalu besar buat menangkap peluang bisnis sampingan dari pabrik rokok tersebut. Ketika sekarang denyut ekonomi Kunir melambat, dan bahkan mendekati mati suri, dia menilai sudah cukup untung lantaran rumahnya sudah berhasil direhab berlantai keramik. Ini sesuatu yang mustahil, sebelum pabrik itu berdiri pada 2012. Sebab, suaminya hanyalah pesuruh di Sekolah Dasar Yosowilangun, 12 kilometer dari Kunir.

"Mau bagaimana lagi. Namanya juga ditutup. Saya utang buat bangun kos-kosan juga, alhamdulilah enggak banyak. Kalau sekarang Kunir sepi (setelah pabrik tutup), ya itu balik seperti dulu. Ya beginilah adanya" ungkapnya sambil  tersenyum.

(mdk/arr)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.