Sandiaga Uno berniat ikut jejak Bakrie investasi di media sosial
Sayangnya, Michael tidak memaparkan lebih lanjut terkait kriteria media sosial yang berpotensi dibidik oleh perseroan.
Meski akan fokus pada tiga sektor bisnis andalan, yakni infrastruktur, produk dan layanan konsumen, serta sumber daya alam, PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG) tidak menutup peluang berinvestasi di sektor media sosial yang saat ini sudah dilakukan beberapa investor.
Director of Business Development Michael Soeryadjaya mengatakan, perseroan membuka diri untuk mengembangkan bisnis investasi di berbagai sektor, termasuk media sosial.
Namun, sebelum memulai investasi tersebut, perseroan terlebih dahulu mempertimbangkan peluang investasi di sektor tersebut tanpa mengabaikan tiga sektor yang sudah menjadi andalan perseroan.
"Kalau ada oportunity, tapi kami akan tetap fokus pada Infrastruktur, konsumer, dan SDA," ucap Michael di Gedung Tempo Scan, Jakarta, Selasa (21/1).
Sayangnya, Michael tidak memaparkan lebih lanjut terkait kriteria media sosial yang berpotensi dibidik oleh perseroan. Perseroan sendiri masih mengandalkan sektor pertambangan, terutama batubara dalam meraup keuntungan.
Menurut Michael, harga batubara saat ini relatif masih stabil dan berkontribusi cukup signifikan terhadap pendapatan perseroan.
"Selama ini mining masih oke, salah satunya Adaro, masih tumbuh sehat, harga batubara masih tetap stabil," ungkap Michael.
Sebelumnya, Bakrie Global Group telah lebih dulu menjadi investor di jejaring sosial pribadi Path dengan nilai investasi mencapai USD 25 juta.
"Kami sangat bahagia dapat partisipasi dalam kemajuan pertumbuhan Path. Dengan tim manajemen yang solid dan rencana bisnis yang relevan, Path akan terus menghubungkan lebih banyak orang Indonesia secara personal, bermakna, dan produktif," kata CEO Bakrie Anindya Bakrie seperti dikutip dari recode.net.
Dengan demikian, total investasi Path bertambah menjadi USD 65 juta. Pada tahun 2011 lalu, Path telah bertumbuh USD 10 juta.
Para investor yang sudah menanamkan modalnya di Path antara lain Greylock Partners, Kleiner Perkins, Index Ventures, Insight Venture Partners, Redpoint Venture Partners, dan First Round Capital.
Dalam sebuah wawancara, Pendiri dan CEO Path Dave Morin menyatakan dirinya telah banyak berbincang dengan banyak investor AS dalam penghimpunan dana lalu. Namun, Dave selalu ingin membidik investor strategis di Asia, khususnya Asia Tenggara, di mana Path berkembang sangat pesat.
"Bisnis kami di sana sangat kuat dibanding yang orang pahami. Saya selalu ingin mencari mitra lokal untuk berekspansi," ujar Dave.
Dave mengatakan, proses telah dimulai sejak tengah tahun lalu, yang dirasakannya sangat berat bagi Path terkait berbagai isu yang dihadapi dalam upaya pertumbuhannya. Ia mengatakan akan menggunakan dana baru itu untuk menunjang pertumbuhan dan penguatan Path, sejalan dengan upayanya untuk meneruskan ekspansi pendapatan Path.
(mdk/bim)