RUPSLB Wijaya Karya Setujui Perubahan Direksi dan Komisaris
Berdasarkan laporan keuangan per tahun 2018 yang belum diaudit, WIKA membukukan laba bersih sebesar Rp 52,89 persen menjadi Rp 2,07 triliun dibandingkan realisasi pada 2017 sebesar Rp 1,36 triliun.
Para pemegang saham PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) menyetujui perubahan susunan direksi dan komisaris perseroan.
Keputusan itu diambil dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) WIKA yang diselenggarakan pada Senin (25/3). Adapun susunan direksi dan dewan komisaris perseroan pasca RUPSLB adalah:
Komisaris Utama: Imam Santoso
Komisaris Independen: Achmad Hidayat
Komisaris Independen: Suryo Hapsoro
Komisaris: Liliek Mayasari
Komisaris: Freddy Saragih
Komisaris: Edy Sudarmanto
Sedangkan jajaran Dewan Direksi adalah sebagai berikut:
Direktur Utama: Tumiyana
Direktur Operasi I: Agung Budi Waskito
Direktur Operasi II: Bambang Pramujo
Direktur Operasi III: Destiawan Soewardjono
Direktur Human Capital dan Pengembangan: Novel Arsyad
Direktur Keuangan: Ade Wahyu
Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama Wijaya Karya Tumiyana menjelaskan, berdasarkan laporan keuangan per tahun 2018 yang belum diaudit, WIKA membukukan laba bersih sebesar Rp 52,89 persen menjadi Rp 2,07 triliun dibandingkan realisasi pada 2017 sebesar Rp 1,36 triliun.
Sementara itu, penjualan Wijaya Karya (belum termasuk proyek-proyek kerja sama operasi/KSO) sepanjang tahun lalu mencapai Rp 31,16 triliun, tumbuh sekitar 19,03 persen dari Rp 26,18 triliun di periode yang sama tahun 2017.
"Kontribusi penjualan terbesar datang dari sektor infrastruktur dan gedung. Kemudian diikuti sektor berikutnya yaitu energi dan industrial plant, industri dan properti," ujar dia.
Reporter: Bawono Yadika
Sumber: Liputan6.com
Baca juga:
Mundur dari Target, Holding BUMN Perumahan Diperkirakan Rampung Usai Pemilu
Wijaya Karya Target Pembangunan KA Cepat Jakarta-Bandung Capai 55 Persen di 2019
Sarinah Gandeng PP dan Wika Bangun Kompleks Bisnis di Jalan Thamrin
2 Anak Usaha Wijaya Karya Bakal IPO di 2019
2019, Wijaya Karya Siapkan Belanja Modal Rp 22 Triliun
Wijaya Karya Gabung Dalam Holding BUMN Perumahan, ini Alasan Pemerintah