Rupiah Masih Betah di Level Rp 14.400-an per USD
Rupiah dibuka di level Rp 14.451 per USD atau menguat tipis dibanding penutupan perdagangan sebelumnya di Rp 14.458 per USD. Rupiah kemudian bergerak melemah ke level Rp 14.491, dan kembali menguat di level Rp 14.480 per USD. Saat ini, Rupiah kembali melemah dan berada di posisi Rp 14.487 per USD.
Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (USD) bergerak fluktuatif di perdagangan hari ini, Kamis (3/1). Pagi ini, Rupiah dibuka di level Rp 14.451 per USD atau menguat tipis dibanding penutupan perdagangan sebelumnya di Rp 14.458 per USD.
Mengutip data Bloomberg, Rupiah kemudian bergerak melemah ke level Rp 14.491, dan kembali menguat di level Rp 14.480 per USD. Saat ini, Rupiah kembali melemah dan berada di posisi Rp 14.487 per USD.
Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo memprediksi nilai tukar Rupiah akan lebih stabil di 2019. Tak hanya itu, Rupiah juga diperkirakan akan cenderung menguat di tahun politik ini. Menurutnya, pada 2018, nilai tukar Rupiah memang mengalami depresiasi atau pelemahan, namun depresiasi tersebut masih dalam level yang terkendali.
Menurut Perry, pada 2018, nilai tukar Rupiah memang mengalami depresiasi atau pelemahan. Namun depresiasi tersebut masih dalam level yang terkendali. "Di 2018 itu terkendali, stabil, depresiasi kurang dari 6 persen atau 5,9 persen," ujar dia di Gedung BI, Jakarta, Rabu (2/1).
Meski mengalami depresiasi, pelemahan Rupiah masih lebih baik jika dibandingkan dengan mata uang negara lain. "Jauh lebih rendah dari depresiasi India atau pun negara lain, Brasil, South Africa, Turki atau pun Argentina. Secara keseluruhan depresiasi Rupiah terkendali dan volatilitas yang terjaga sekitar 8 persen," ungkap dia.
Sementara untuk 2019, Perry meyakini nilai tukar Rupiah akan cenderung mengalami penguatan. Sebab, banyak faktor di tahun ini yang akan mendorong penguatan tersebut.
"2019 kami melihat Rupiah akan bergerak lebih stabil dan cenderung menguat. Rupiah saat ini masih undervalue. Semua faktor akan mendorong Rupiah lebih stabil dan menguat ke depan. Pertama, kenaikan FFR akan lebih rendah dari yang kita perkirakan. Kedua, kredibilitas atau konsistensi kebijakan yang ditempuh BI maupun pemerintah. Ketiga, CAD yang lebih rendah. Keempat adalah mekanisme pasar valas, tidak hanya di spot, swap, maupun DNDF," tandas dia.
Baca juga:
Pertumbuhan Ekonomi dan Kurs Rupiah Meleset Dari Target APBN 2018
Bos BI Prediksi Rupiah Lebih Perkasa di 2019, Ini Pemicunya
Awal Tahun, Rupiah Masih Menguat di Level Rp 14.446 per USD
Penukaran Uang Tahun Emisi Lama di Surakarta Tembus Rp 574 Juta
Kaleidoskop 2018: Nilai Rupiah Disebut Terburuk Sejak Krisis 1998