Rupiah anjlok, BI diminta segera naikkan suku bunga acuan
Kepala Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik Universitas Gadjah Mada, Tony Prasetiantono mengatakan, dalam kondisi seperti saat ini, kenaikan suku bunga sudah tidak bisa lagi ditunda. Sebab, kenaikan ini diyakini mampu meredam gejolak Rupiah.
Bank Indonesia (BI) diminta untuk segera menaikkan suku bunga acuan. Langkah ini untuk meredam pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Kepala Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik Universitas Gadjah Mada, Tony Prasetiantono mengatakan, dalam kondisi seperti saat ini, kenaikan suku bunga sudah tidak bisa lagi ditunda. Sebab, kenaikan ini diyakini mampu meredam gejolak Rupiah.
"Jadi mestinya menaikkan suku bunga menjadi opsi yang harus segera ditempuh. Ini sudah hitungan hari, detik, semua negara sudah lakukan, karena era suku bunga rendah sudah berakhir," ujar dia di kawasan Tanah Abang, Jakarta, Rabu (9/5).
Menurutnya, dengan kenaikan suku bunga, akan membuat pasar lebih tenang. Dengan demikian, pelemahan terhadap Rupiah tidak berdampak lebih besar.
"Kalau kita tidak segera merespons, kita telat, secara psikologis akan membuat pasar semakin grogi. Ini Amerika sudah menaikkan, China, meski kecil tapi sudah naikkan suku bunga," kata dia.
Menurut Tony, BI hanya cukup menaikkan suku bunganya sekitar 25 basis point. Hal ini akan menunjukkan jika Indonesia tetap tenang menghadapi gejolak eksternal.
"Coba dulu 25 basis point, kita tidak ingin menunjukkan panik jadi tidak mesti harus 50 basis point. Kalau level langsung ke 50 basis point, saya khawatir dampak ke psikologis," tandas dia.
Reporter: Septian Deny
Sumber: Liputan6.com
Baca juga:
Menko Darmin pastikan penguatan kurs Dolar saat ini berbeda dengan krisis 1998
Rupiah merosot, Menko Darmin bandingkan nilai tukar RI dengan Malaysia & Thailand
Kurs Dolar hantam Rupiah ke Rp 14.000, ini kata Presiden Jokowi
Kurs Dolar ke Rupiah tembus Rp 14.000, 2 BUMN Ini gencar tingkatkan ekspor
Sri Mulyani beberkan dampak menguatnya kurs dolar hingga Rp 14.000