LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. UANG

RNI usul beli perusahaan daging Australia yang bangkrut

Dengan membeli perusahaan yang kolaps, diharapkan pasokan daging dari Australia bisa cepat sampai di Indonesia.

2013-06-27 19:03:00
Dahlan Iskan
Advertisement

Persoalan harga daging sapi yang mahal dan pasokan yang terkadang tersendat, menjadi pekerjaan rumah yang besar bagi pemerintah. Berbagai ide muncul untuk menyelesaikan persoalan ini.

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan beberapa waktu lalu berencana membeli lahan untuk peternakan sapi di Australia. Kali ini, PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) mengusulkan cara yang lebih mudah.

RNI menilai, lebih baik pemerintah membeli perusahaan ternak Australia yang bangkrut. Kemudian dikelola kembali. Dengan demikian, kepastian suplai dan harga daging dijamin lebih ekonomis.

Advertisement

"Suplay daging nggak selesai 1-2 tahun. Kalau mau cepat, beli perusahaan kolaps. Jadi 3 bulan suplai bisa dieksekusi," ujar Direktur Keuangan dan SDM RNI Dandossi Matram di JCC, Jakarta, Kamis (27/6).

Terlepas dari itu, RNI tetap mendukung ide Dahlan membeli lahan untuk peternakan sapi. Namun, RNI melihat perlunya dibentuk sebuah konsorsium BUMN untuk merealisasikan rencana itu. Tujuannya agar risiko tidak ditanggung oleh hanya satu perusahaan saja.

Apapun keputusan pemerintah, yang terpenting tujuannya adalah menjamin pasokan daging untuk kebutuhan dalam negeri. "Proyek ke depan daging ada tapi harga reasenable, caranya suplay harus ada," tambahnya.

Advertisement

Sebelumnya, Dahlan berencana membeli 1 juta hektar lahan ternak sapi di Australia untuk pembibitan. Dalam rencana ini, Dahlan meminta 3 BUMN menyampaikan proposal kepada Dahlan, dan akan dipilih satu untuk melakukan aksi korporasi ini. Namun, RNI mengusulkan agar dibentuk konsorsium. Dahlan menolak usulan itu.

"Saya tetap tidak sepakat (dengan Ismed), prosedurnya terlalu panjang, lebih baik sendiri-sendiri (tanpa konsorsium)," ucap Dahlan.

Menurut Dahlan, satu BUMN saja sudah cukup untuk membiayai dana investasi yang mencapai Rp 300 miliar ini. "Dana bisa dicari," katanya.

(mdk/noe)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.