LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. UANG

Ribuan Orang Dukung Petisi Indonesia Bebas Asap Rokok dan TAR

Menurut hasil penelitian yang dilakukan di Korea Selatan, paparan asap rokok turut memengaruhi kecerdasan intelektual anak-anak. Mereka yang terpapar memilki kecerdasan yang lebih rendah daripada anak-anak yang tidak terkena asap rokok.

2019-09-03 18:10:00
Industri Rokok
Advertisement

Ancaman bahaya kesehatan yang diakibatkan oleh asap rokok dan zat kimia berbahaya, seperti TAR, semakin meresahkan masyarakat. Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK!) mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk menandatangani petisi di change.org (http://bit.ly/GerakanBebasTar) tentang bahaya yang ditimbulkan oleh asap rokok dan TAR serta mendukung solusi nyata melalui pendekatan pengurangan risiko atas masalah ini.

Ketua GEBRAK!, Aryo Andrianto mengatakan, masyarakat belum sepenuhnya menyadari bahaya dari asap rokok dan TAR. Zat kimia berbahaya itu berpotensi menimbulkan masalah kesehatan. "Ketika asap rokok dihirup, TAR membentuk lapisan lengket di paru-paru yang dapat menyebabkan kanker. Selain itu, TAR juga dikenal sebagai penyebab kanker mulut dan tenggorokan," jelas Aryo di Jakarta.

Aryo melanjutkan, hasil pembakaran dari rokok menghasilkan TAR, yang merupakan zat kimia berbahaya. TAR mengandung berbagai senyawa karsinogenik yang dapat menyebabkan kanker. Berdasarkan data National Cancer Institute Amerika Serikat, hampir dari 7.000 bahan kimia yang ada di dalam rokok, 2.000 di antaranya terdapat pada TAR.

Advertisement

Asap rokok, menurut Aryo, juga membahayakan bagi orang-orang yang berada di sekitar perokok. Risiko kanker paru meningkat hingga 20-30 persen pada mereka yang tidak merokok, tapi selalu dikelilingi asap rokok dibandingkan non-perokok yang tidak terpapar asap rokok. Menurut hasil penelitian yang dilakukan di Korea Selatan (2014), paparan asap rokok turut memengaruhi kecerdasan intelektual anak-anak. Mereka yang terpapar memiliki kecerdasan yang lebih rendah daripada anak-anak yang tidak terkena asap rokok.

"Berdasarkan fakta tersebut, kami mengajak masyarakat Indonesia untuk menandatangani petisi tentang bahaya asap rokok dan TAR. Ini merupakan masalah serius yang harus ditangani dengan sungguh-sungguh demi terciptanya kehidupan dan generasi Indonesia yang lebih baik," tegas Aryo.

Selain itu, Aryo juga mendorong masyarakat, terutama perokok, untuk memahami secara seksama risiko dari merokok, sehingga dapat memilih produk tembakau alternatif sebagai solusi untuk mengatasi bahaya dari rokok. Berdasarkan penelitian ilmiah, produk tembakau alternatif minim akan risiko kesehatan karena tidak melalui proses pembakaran.

Advertisement

"Yang dihasilkan produk tembakau alternatif adalah uap. Di sejumlah negara, seperti Jepang, Inggris, Selandia Baru, dan Kanada sudah menggunakan produk tembakau alternatif untuk menekan jumlah perokok," ujarnya.

Aryo mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk mendukung petisi yang sudah meraih 2.772 dukungan (3/9) dalam waktu dua minggu. "Saatnya kita menyuarakan aspirasi kita untuk menciptakan Indonesia tanpa asap rokok dan TAR," tutup Aryo.

Sebelumnya, Pemerhati Kesehatan Publik, Tri Budhi Baskara berharap pemerintah dan pihak berwenang untuk aktif menyebarkan informasi tentang bahaya TAR yang dikandung rokok kepada masyarakat. Menurutnya, dengan memberikan informasi yang benar bisa membantu pemerintah untuk menurunkan prevalensi perokok.

"Dengan memberikan informasi secara aktif kepada masyarakat tentang bahaya TAR bagi kesehatan tubuh, maka target pemerintah untuk menurunkan prevalensi perokok akan tercapai. Pemahaman yang menyeluruh tentang bahaya TAR akan menciptakan kesadaran pada masyarakat tentang penyebab utama penyakit terkait merokok," kata Tri di Jakarta.

Fakta mencengangkan terungkap pada pertemuan The 12th Asia Pasific Conference on Tobacco or Health (APACT12th). Pada pertemuan yang digelar di Nusa Dua itu, terungkap jika jumlah perokok anak setiap tahunnya terus mengalami peningkatan drastis.

Chairperson of APACT12th Indonesia, Arifin Panigoro menuturkan, pertemuan ini amat penting untuk pengendalian tembakau di dunia, khususnya di Indonesia.

Dari data yang dimiliki APACT ada sebanyak 3 miliar orang yang merupakan pecandu tembakau di seluruh dunia. Ironisnya, jumlah terbesar pecandu rokok berada di negara berkembang, termasuk Indonesia.

"Karena itulah pertemuan ini amat penting untuk mengendalikan penggunaan tembakau. Di dunia, ada tiga miliar perokok dan jumlah terbesar ada di negara berkembang," ujar Arifin Panigoro di Hotel Hilton Nusa Dua, Kamis (13/9/2018).

(mdk/idr)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.