Rencana melantai di bursa, Bank DKI tunggu keputusan Jokowi
Bank DKI menunggu apakah Pemprov DKI akan menyuntikkan dana sebesar Rp 1 triliun atau tidak sebelum melakukan IPO.
Hingga saat ini PT Bank DKI telah memperoleh suntikan modal Rp 450 miliar dari pemerintah provinsi Jakarta. Gubernur Joko Widodo sudah berjanji akan menambah setoran modal hingga Rp 1 triliun, namun realisasinya menunggu pembahasan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Perubahan (APBD-P).
Direktur Keuangan Bank DKI Benny Santoso menyatakan realisasi tambahan modal itu akan mempengaruhi rencana mereka dalam melakukan penawaran saham perdana (IPO).
"Sebenarnya kalau dirunut-runut selama masa kerja direksi ini hampir Rp 975 miliar penempatan modal pemerintah. Tahun ini, isu-isunya pemerintah provinsi akan memberikan Rp 1 triliun. IPO lanjut atau enggak, kita lihat apakah masuk APBD perubahan, tapi soal persiapan IPO kami tetap mempersiapkan diri," ujar Benny selepas paparan kerja di Jakarta, Senin (15/7).
Direktur Operasional Bank DKI Martono menambahkan suntikan dana tambahan itu perlu, sebab pihaknya menyiapkan diri agar modal perseroan bisa mencapai Rp 5 triliun. Jika APBD-P akhirnya tidak memberikan dana sebesar Rp 1 triliun, maka pihaknya siap mempercepat proses IPO.
"Sebetulnya opsinya kalau pemprov enggak ngasih (tambahan dana), kita langsung IPO, supaya modal kita Rp 5 triliun," paparnya.
Bank DKI saat ini berada di level Buku II. Sementara sebelum melantai di bursa, direksi ingin naik status menjadi bank di level Buku II.
Selain itu, menurut Benny, pihaknya akan meningkatkan status rating perbankan dulu sebelum IPO. "Kami sedang berusaha mencari rating, kita akan coba untuk Juli ini bekerja sama dengan Fitch, mudah-mudahan hasilnya bisa lebih baik," ungkapnya.
Meski ada beberapa tahapan sebelum IPO, Bank DKI menjamin pihaknya siap melantai di bursa kapanpun Pemprov DKI selaku pemegang 99,6 persen saham untuk menentukan kapan waktunya.
"Jika diinginkan pemilik untuk IPO atau naik buku, kita sudah siap," kata Benny.
(mdk/bmo)