Rencana Dahlan lebur PGN dan Pertagas bikin 1.500 karyawan resah
Serikat pekerja: Pertamina ingin caplok PGN karena prospek bisnis PGN bagus.
Rencana atau ide Menteri BUMN Dahlan Iskan melebur atau menggabungkan Perusahaan Gas Negara (PGN) dengan anak usaha Pertamina yakni Pertagas, tak kunjung menemukan titik terang. Bahkan, rencana ini justru melahirkan polemik berkepanjangan.
Termasuk di mata 1.500 karyawan PGN yang mengaku bingung serta risih dengan makin kencangnya isu ini berhembus.
Sekjen Federasi Serikat Pekerja BUMN, M. Munif menyampaikan kegundahan hati karyawan PGN. Dia mengatakan, karyawan menilai rencana ini sangat tidak masuk akal. PGN adalah perusahaan untung yang seharusnya tidak boleh terganggu oleh isu semacam ini.
"Wacana Pertamina mencaplok PGN, karyawan resah, PGN digabung dengan anak usaha Pertamina yaitu Pertagas. PGN karyawan 1.500 dan ini perusahaan untuk mencapai Rp 6 triliun lebih pernah Rp 8 triliun," ucap Munif ketika berbincang dengan wartawan di Jakarta, Kamis (9/1).
Munif tidak menampik, wacana akuisisi oleh Pertagas meresahkan internal PGN. Imbasnya, secara tidak langsung mengganggu kinerja keseharian perseroan. Munif menyarankan Menteri BUMN Dahlan Iskan agar tetap membiarkan masing-masing perusahaan menjalankan bisnisnya.
"Bisnis harus fokus kalau menang mau bersaing secara global. Oil sendiri, gas sendiri di negara lain juga begitu. Masa depan kita (gas) itu luar biasa. Wajar Pertamina mau caplok kita," jelasnya.
Munif menceritakan, awalnya Pertamina hanya fokus pada bisnis perminyakan saja. Namun lama kelamaan Pertamina merambah bisnis gas dengan membuat anak perusahaan Pertagas yang usahanya serupa dengan PGN.
"Secara logika bisnis kurang masuk akal, PGN tanpa apa-apa dicaplok. Menimbulkan keresahan dan kurang nyaman dalam bekerja. Benarnya diajak ngomong level yang sama. Pertamina dan PGN undang level yang sama. PGN bukan perusahaan merugi. Ini perusahaan sudah go publik. Di Prancis dipisah dan fokus pada usaha masing-masing," tutupnya.
(mdk/noe)