Rencana Dahlan beli peternakan sapi di Australia gagal total?
RNI menyatakan melemahnya nilai tukar membuat rencana pembelian lahan ternak sapi Australia tak lagi menguntungkan.
Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan nampaknya harus kembali gigit jari. Pasalnya, rencana Dahlan melalui anak buahnya terancam kembali gagal.
Belum lama ini, Dahlan harus menelan pil pahit karena rencananya untuk menggabungkan Bank Tabungan Negara (BTN) dengan Bank Mandiri 'gagal'. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sampai mengeluarkan arahan agar Dahlan menghentikan ambisinya itu.
Menanggapi hal ini, Dahlan tidak ambil pusing. Justru dirinya berkelakar kalau dalam satu bulan ini merasa dirinya bodoh. Pasalnya, satu bulan terakhir ini, dirinya tengah gemar membaca novel.
"Saya lebih suka baca novel. Terus terang, saya satu bulan ini bodoh, saya lebih banyak baca novel," ujar Dahlan.
Kini gagalnya rencana Dahlan nampaknya berpotensi kembali berulang. Kali ini berasal dari perusahaan anak buahnya yakni PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI). RNI disinyalir bakal gagal membeli peternakan sapi di Australia.
Sejak tahun lalu, di beberapa kesempatan Dahlan Iskan selalu mengutarakan soal rencananya membeli 1 juta hektar lahan peternakan sapi di Australia. Dahlan merencanakan untuk beternak sapi di Australia dengan pertimbangan biaya peternakan yang murah dengan kualitas sapi yang bagus.
Dua perusahaan BUMN digadang-gadang telah disiapkan sebagai eksekutornya yakni PT RNI (Persero) dan PT Pupuk Indonesia.
Deputi Bidang Industri primer Kementerian BUMN, Muhammad Zamkhan mengaku, perusahaan BUMN akan mengakuisisi perusahaan peternakan Australia. "Untuk memiliki tanah di sana tidak gampang. Kemarin diputusin akuisisi perusahaan ternak di sana. RNI dan Pupuk Indonesia yang ditugasi," jelasnya.
Pihaknya merasa perlu untuk mendatangani Australia untuk meninjau kembali lokasi peternakan yang akan diakuisisi. Namun, akuisisi perusahaan peternakan dipastikan tahun 2014 rampung.
Dahlan menuturkan, kepastian pembelian lahan peternakan di Australia masih menunggu keputusan dari Pupuk Indonesia dan RNI. Keputusan dua anak buahnya itu akan dilaporkan pada akhir Maret 2014.
Kini, RNI menuturkan pihaknya terancam batal mengakuisisi peternakan sapi di Australia. Sebab, nilai dolar AS dinilai tidak rasional sehingga membuat potensi bisnis yang akan dijalankan tidak lagi menguntungkan.
Menurutnya, rencana ekspansi dengan mengelola lahan peternakan di Australia disusun dengan pertimbangan tukar Rupiah terhadap Dollar sebesar Rp 9.600 atau maksimal Rp 10.000 per USD. Tetapi, kenyataannya saat ini nilai tukar rupiah terhadap Dollar mencapai Rp 12.000 per USD.
"RNI tahap pertama akan impor dulu, kalau akuisisi peternakan nilai dolar tidak rasional, ini kalau dari sisi investasi belum menguntungkan," ujar Dirut PT RNI, Ismed Hasan Putro.