Produsen penggemukan sapi kekurangan pasokan
Jumlah sapi feedloter yang masuk kandang terus mengalami pengurangan dan jauh dari kapasitas yang ada.
Asosiasi Produsen Daging dan Feedlot Indonesia (Apfindo) menyatakan pengurangan impor sapi bakalan ini memberikan dampak buruk bagi usaha penggemukan(feedloter). Banyak perusahaan feedloter akan bangkrut karena kapasitas kandangnya tidak sebanding dengan investasi yang dikeluarkan.
Direktur Eksekutif Apfindo Joni Liano mengatakan utilitas kapasitas kandang berkurang dalam beberapa tahun terakhir ini. Pada 2009, kapasitas kandang feedloter sebesar 1 juta ekor dengan jumlah impor sapi sebesar 765.000 ekor.
Puncaknya, 2012 dan 2013, kapasitas kandang feedloter naik menjadi 1.250.000 ekor sedangkan jumlah impor sapi hanya sekitar 269.000 sampai 283.000 ekor. Dan menurun pada 2009, utilitas kandang mencapai 76,5 persen. "Pada tahun depan, utilitas kandang hanya sebesar 21,4 persen," ujar Joni di Gedung Palma One, Jakarta Selasa (11/12).
Joni menegaskan berkurangnya utilitas kandang ini lantaran berkurangnya impor sapi bakalan sedangkan pasokan dari sapi lokal hanya sedikit. "Industri feedloter kita itu mati suri. Apalagi dengan pengurangan impor akan semakin memperparah karena pihak bank mencoba kembali melihat industri ini," katanya.
Direktur Budidaya Ternak Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan Fauzi Luthan mengatakan pengusaha feedloter harus kreatif supaya tidak mati suri. Caranya, pengusaha feedloter meluaskan usaha di bidang pemotongan hewan atau pun pembibitan hewan sehingga tidak mengandalkan sapi bakalan impor. "Sudah ada pengusaha feedloter yang menggabungkan usaha ini dan ini terbukti.".
Fauzi menegaskan pasokan sapi lokal untuk feedloter sudah cukup sesuai kebutuhan dan tidak ada kekurangan. Setiap bulan, feedloter mendapatkan pasokan sapi lokal sebesar 30.000 sampai 35.000 ekor. "Dari data bulan Februari hingga November tidak ada keluhan kekurangan di feedloter," katanya.