LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. UANG

Merek Indonesia diakui dunia, masyarakat malah suka barang impor

Produk Indonesia tak laku di dalam negeri, tapi perkasa di pasar global.

2015-05-15 08:05:00
Produk Indonesia
Advertisement

Mayoritas masyarakat Indonesia saat ini diakui lebih suka melirik dan mengonsumsi produk impor ketimbang produk dalam negeri. Padahal kualitas merek lokal sendiri tak kalah dari produk luar negeri. Hal ini terbukti dari banyaknya merek atau brand Indonesia yang mendunia dan diakui pasar global.

Managing Partner Indonesia Brand Forum, Yuswohady menilai kondisi ini terjadi karena masyarakat Indonesia tidak percaya diri terhadap merek lokal. Mereka sudah membentuk pemikiran bahwa merek global lebih baik ketimbang merek lokal.

"Kita negara yang terlalu lama di jajah, merek asing dianggap lebih bagus, mental bangsa tidak punya kepribadian ya Indonesia ini," ujarnya ketika dihubungi merdeka.com, Jakarta, Jumat (15/5).

Advertisement

Menurut dia, sebetulnya merek lokal sudah terkenal di pasar dunia, bahkan masyarakat benua Eropa dan Amerika sangat menyukai merek Indonesia. Hal ini justru terbalik di Tanah Air, di mana masyarakat Indonesia berani merogoh kocek lebih dalam demi mendapatkan merek global.

"Memang diakui barang merek Apple sangat diminati oleh masyarakat Indonesia, lalu restoran siap saji seperti KFC, Starbuck dan Mc'D sangat digemari anak-anak hingga orang dewasa di Indonesia, ini masalah budaya yang sudah terbentuk ratusan tahun," jelas dia.

Dia menambahkan, rakyat Indonesia dinilai tidak menunjukkan sikap percaya terhadap merek lokal. Jika dibandingkan dengan negara Korea dan Jepang, mereka mampu menarik masyarakat lokalnya untuk membeli produk mobil buatan negara sendiri.

Advertisement

"Hal ini sangat menyedihkan di Indonesia, Korea dan Jepang bikin produk Samsung dan masyarakatnya banyak yang menggunakannya, memang negara mereka kecil jadi mudah disatukan, sementara Indonesia banyak suku bangsa, bahasa jadi karakteristiknya banyak," ungkapnya.

Hanya saja yang menjadi kekhawatiran Yuswohadi adalah Indonesia menjadi tujuan global brand sebagai pasar dan memberi pengaruh mengerikan pada budaya dan pembentukan karakter image. Global Brand merupakan istilah untuk merek-merek global yang melokal di pasar yang ditujunya. Contoh paling gampang adalah merek-merek keluaran Unilever di sini seperti Rinso, Sunsilk atau Lux. Merek-merek itu adalah merek global tapi kita di Indonesia sudah menganggapnya sebagai merek lokal karena keberadaannya di pasar Indonesia yang sudah sedemikian lama.

"Nantinya market membentuk global brand dengan iklan dan membentuk persepsi masyarakat yang menjadikan kualitas yang keren karena diciptakan pengusaha global," kata dia.

Untuk itu pihaknya mengharapkan pemerintah turut mendukung merek-merek lokal untuk mendunia di kandang sendiri dan juga negara lainnya. Meski selama ini, pemerintah dinilai cuek dengan keberadaan merek lokal.

"Pemerintah tidak ada kepeduliannya, tidak mengerti dalam istilah brand, mereka (pemerintah) mengertinya ekspor," katanya.

Saat ini dirinya hanya berharap sektor swasta dapat mendorong merek-merek lokal melalui UKM yang sudah tersebar di Indonesia. "Solusinya wirausaha kita lebih fokuskan, baik pengusaha besar dan kecil didorong untuk memajukan merek lokal," tutup dia.

(mdk/idr)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.