Produk anak usaha RNI ini tembus pasar Kamboja
Produk antimo anak milik anak usaha RNI laku di Kamboja.
Salah satu anak usaha PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI), PT Phapros mencoba menembus pasar luar negeri dengan produk farmasi atau obat-obatan buatan mereka. Hasilnya, beberapa produk perusahaan berhasil dijual hingga ke Kamboja.
Manager Research and Development PT Phapros, Supriyanto mengatakan, salah satu produk yang cukup laku di Kamboja adalah Antimo Anak. Obat anti mabok perjalanan ini disebut banyak diminta masyarakat Kamboja.
"Di Kamboja kita sudah masuk dan sudah dapat registrasi yang kita urus selama lebih kurang setengah tahun," kata Supriyanto ketika ditemui di Kantornya, Semarang, Jawa Tengah, Jumat (11/3).
Menurut Supriyanto, setidaknya ada tiga produk Phapros yang telah tembus pasar Kamboja. Namun, yang paling laku memang Antimo Anak. "Ini laku karena mungkin tidak kepikiran mereka buat (obat semacam ini)," katanya.
Tak puas disitu saja, Phapros saat ini mencoba menembus pasar Vietnam dan Filipina. Anak usaha RNI ini sedang mengurus proses registrasi obat di negara setempat.
"Vietnam, Filipina sedang proses registrasi. Kita sedang coba negara yang regulasi obat obatan agak rendah atau low regulated," tegasnya.
Meski demikian, Supriyanto mengakui kontribusi ekspor obat-obatan masih sangat minim untuk perusahaan. Namun, dia tetap optimis hal ini akan tetap meningkat melihat tingginya permintaan dari luar negeri.
"Sekarang ekspor masih sedikit, paling satu persen itu realisasi April 2015. Perdana ke Kamboja ini. Tapi order terus bertambah. Ini kita berkelanjutan mereka (Kamboja) terus minta. Tapi ekspor memang buka backbone kita," tutupnya.
Baca juga:
Produksi obat generik, Phapros siap bangun pabrik Rp 450 M
RNI beri penghargaan anak usaha guna genjot inovasi dan kreativitas
RNI ingin ubah Kota Lama Semarang serupa Braga di Bandung
Ini keuntungan perusahaan BUMN melantai di bursa saham versi BEI
BUMN bakal jual produk pesawat terbang hingga kondom ke Nepal
Perluas Bandara Palembang, AP II siapkan Rp 130 miliar