Prabowo di Munas HIPMI: Tak Ada Pertumbuhan Ekonomi Tanpa Nasionalisme
Prabowo menilai HIPMI memiliki peran strategis karena lahir dari semangat nasionalisme yang menjadi dasar kemajuan sebuah bangsa.
Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menegaskan pentingnya nasionalisme sebagai fondasi utama dalam membangun kekuatan ekonomi nasional.
Pernyataan itu ditegaskan saat memberi sambutan pada Munas XVIII Himpunan Pengusaha Muda Indonesia bertajuk “Sinergi Pengusaha Muda Membangun Kekuatan Ekonomi Nasional” di Novotel Lampung, Rabu (10/6).
Prabowo menilai HIPMI memiliki peran strategis karena lahir dari semangat nasionalisme yang menjadi dasar kemajuan sebuah bangsa.
“Lahirnya HIPMI dengan wawasan nasionalisme sebagaimana diutarakan, adalah sangat penting. Tidak ada kemajuan suatu bangsa tanpa nasionalisme,” ujar Prabowo.
Nasionalisme Diakui Pemikir Ekonomi Dunia
Prabowo menegaskan pandangan mengenai pentingnya nasionalisme dalam pertumbuhan ekonomi juga diakui oleh para pemikir ekonomi dunia.
“Bahkan embah-embahnya kapitalisme, guru-guru kapitalisme sekalipun, mengatakan pertumbuhan ekonomi hanya bisa datang dengan nasionalisme,” katanya.
Prabowo kemudian mengutip pandangan Liah Greenfeld mengenai hubungan nasionalisme dan pertumbuhan ekonomi dalam buku The Spirit of Capitalism: Nationalism and Economic Growth. Buku tersebut membahas secara rinci karakteristik pertumbuhan ekonomi modern.
“Jadi, karakteristik dari ekonomi modern, is not self-sustained. Tidak maju, tidak berkembang dengan sendirinya. Pertumbuhan distimulasi dan dipertahankan oleh nasionalisme,” kata Prabowo.
Negara Maju Tumbuh karena Semangat Kebangsaan
Menurutnya, berbagai negara yang berhasil mencapai kemajuan ekonomi menunjukkan kuatnya peran nasionalisme dalam pembangunan mereka.
“Jadi saudara-saudara, Jepang maju, Amerika maju, Eropa Barat maju, Tiongkok bangkit sekarang karena nasionalisme,” ujar Prabowo.
Lebih lanjut, Prabowo mengajak seluruh peserta Munas HIPMI untuk melakukan refleksi mengenai penerapan nasionalisme dalam sistem ekonomi Indonesia.
“Marilah kita bertanya kepada diri kita sendiri. Apa benar sistem ekonomi kita sudah berdasarkan nasionalisme? Marilah kita lihat dengan mata dan hati yang terbuka,” katanya.