Potensi Bioenergi Indonesia Ternyata Menapai 83,4 Juta Ton per Tahun, tapi Baru Dimanfaatkan Segini
PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) sedang mempercepat upaya pemanfaatan biomassa ini.
Indonesia memiliki potensi yang signifikan untuk meningkatkan ketahanan energi nasional sekaligus mengurangi emisi di sektor ketenagalistrikan dengan memanfaatkan biomassa sebagai sumber bioenergi. PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) sedang mempercepat upaya pemanfaatan biomassa ini.
Direktur Biomassa PLN EPI, Hokkop Situngkir, menyatakan bahwa Indonesia memiliki potensi biomassa untuk bioenergi yang mencapai 83,4 juta ton per tahun. Namun, saat ini pemanfaatannya baru mencapai sekitar 22 juta ton, yang berarti hanya sekitar 5 persen dari total potensi nasional.
Sementara itu, tren pemanfaatan bioenergi di dunia semakin pesat, terutama di negara-negara seperti Finlandia, Swedia, dan Austria, yang telah menjadikan bioenergi sebagai sumber utama energi terbarukan.
"Ini adalah peluang besar bagi Indonesia. Potensinya ada, tetapi ekosistem supply chain biomassa harus dibangun lebih kuat agar bisa mendukung pembangkit listrik secara berkelanjutan," ungkap Hokkop.
Pemetaan yang dilakukan bersama pemerintah menunjukkan bahwa potensi biomassa tersebar di seluruh wilayah Indonesia, dengan kontribusi terbesar berasal dari Sumatra. Sumber biomassa utama meliputi limbah industri kelapa sawit, kayu, dan hasil pertanian, yang hingga saat ini masih belum dimanfaatkan secara optimal.
Bioenergi menjadi bagian penting dari strategi dekarbonisasi PLN, sejalan dengan target Net Zero Emissions 2060. Pemerintah menargetkan pemanfaatan 9 juta ton biomassa pada tahun 2030 melalui enhanced NDC untuk mendukung program cofiring, yaitu substitusi sebagian batu bara di pembangkit listrik tenaga uap.
Penggunaan Biomassa
PLN EPI melaporkan bahwa hingga 30 November 2025, penerapan cofiring telah dilakukan di 49 PLTU, dengan penggunaan biomassa mencapai 2,2 juta ton dan pengurangan emisi sebesar 2,53 juta ton CO2 setara.
Jenis-jenis biomassa yang memenuhi standar kualitas kini meningkat menjadi 14 jenis, mencakup limbah sawit, limbah pertanian, dan sampah kota terolah (SRF). Target pemanfaatan biomassa pada tahun 2025 ditetapkan sebesar 3 juta ton.
Hokkop menambahkan bahwa PLN EPI juga memulai program dedieselisasi dan produksi biogas/Bio-CNG dari limbah cair sawit (POME) sebagai pengganti bahan bakar untuk pembangkit gas dan mesin diesel. Langkah ini diharapkan dapat mengurangi biaya operasional, terutama di daerah terpencil yang selama ini bergantung pada bahan bakar minyak (BBM) impor.
"Tantangan kita adalah memastikan pasokan biomassa berkelanjutan. Karena itu, kami melibatkan koperasi, BUMDes, dan sektor swasta dalam pengembangan hub produksi biomassa," ujar Hokkop.
Membangun Jaringan Hub
PLN EPI, bersama dengan kementerian terkait, saat ini sedang mengembangkan jaringan hub dan sub-hub di berbagai lokasi. Fasilitas ini akan berfungsi sebagai titik pengumpulan bahan baku, produksi pelet biomassa, serta pengendalian kualitas sebelum bahan tersebut dikirim ke pembangkit listrik.
Dengan adanya model ini, diharapkan dapat menciptakan lapangan kerja baru dan menjadi sumber pendapatan tambahan bagi desa-desa yang memproduksi biomassa.
Hokkop menekankan bahwa percepatan pemanfaatan bioenergi bukan hanya berkaitan dengan isu lingkungan, tetapi juga merupakan strategi penting untuk meningkatkan kemandirian energi nasional. Hal ini dapat membantu mengurangi ketergantungan pada impor energi fosil dan membangun ekonomi hijau yang berbasis pada potensi sumber daya domestik.
"Dengan kolaborasi dan investasi yang tepat, bioenergi bisa menjadi tulang punggung ketahanan energi Indonesia," tutupnya.