PLN-Pertamina belum sepakat harga uap untuk PLTP Kamojang
PLN minta harga uap USD 4 sen per kwh, sedangkan Pertamina selaku pemasok minta USD 9,5 sen per kwh.
PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) mendorong penurunan harga jual uap untuk Pembangkit Listrik Panas Bumi (PLTP) Kamojang I, II, dan III menjadi sebesar USD 3-4 sen per kilowatt hour (kwh). Itu lebih rendah dari harga jual yang disepakati antara PLN dan PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) pada tahun lalu sebesar USD 6,2 sen per kwh.
Direktur Konstruksi dan Energi Baru Terbarukan PLN Nasri Sebayang mengatakan, pihaknya telah menjalin kerja sama dengan Pertamina terkait pemanfaatan panas bumi di Kamojang 1,2,3 lebih dari tiga puluh tahun. Namun, tahun lalu, pertamina selaku pemasok menawarkan harga uap yang tinggi, USD 9,5 sen per kwh.
"Bagi PLN wajarnya itu USD 4 sen atau dibawah. Mereka menawarkannya USD 9 sen. Sekarang oke lah masih pakai USD 6 sen," jelas Nasri di kantornya, Jakarta, Kamis (7/1).
Sebelumnya, PGE terpaksa menghentikan pasokan uap untuk PLTP Kamojang I, II, dan III. Sebab perundingan mengenahi harga jual uap untuk pembangkit yang dikelola PT Indonesia Power, anak usaha PLN, tersebut menemui jalan buntu.
Manajer Senior Hubungan Masyarakat PLN Agung Murdifi mengaku pihaknya tak sanggup membeli uap seharga USD 9,5 sen per kwh seperti yang diminta Pertamina.
Pada kesempatan berbeda, Vice President Corporate Communication Pertamina Wianda Pusponegoro menuding PLN tak mendukung upaya pemerintah dalam meningkatan pemanfaatan energi panas bumi.
Selain itu, PLN juga dinilainya mengesampingkan biaya investasi telah dikeluarkan Pertamina untuk memproduksi uap tersebut.
Baca juga:false
Kisruh harga jual uap PLTP, pemerintah panggil PLN dan Pertamina
Keselamatan penerbangan, INACA klaim maskapai RI alami kemajuan
Pelindo IV tambah rute pengapalan langsung ke Korea dan Jepang
2016, Menteri Amran target swasembada beras
2016, KAI optimistis raup pendapatan Rp 20 triliun