LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. UANG

Pertamina Berencana Kembangkan Energi Nuklir

Dia mengatakan, hidrogen yang akan dicoba dikembangkan pihaknya adalah hidrogen di use refinery, untuk memproduksi metanol dan mobility. Sementara sebagai penggerak hidrogen akan menggunakan nuklir agar bisa memproduksi energi murah.

2019-11-27 17:29:44
Nuklir
Advertisement

PT Pertamina (Persero) mengaku siap untuk masuk ke dalam energi terbarukan atau renewable energy di Indonesia. Salah satunya, perusahaan BUMN itu akan berencana masuk melalui bahan bakar hidrogen dan nuklir.

"Kita akan masuk ke area hidrogen, kemudian nuklir. Karena tren yang ada dekarbonisasi, tidak lagi menginginkan yang ada karbonnya," kata Senior Vice President Research and Technology Center (RTC) Pertamina, Dadi Sugiana saat ditemui di Jakarta, Rabu (27/11).

Dia mengatakan, hidrogen yang akan dicoba dikembangkan pihaknya adalah hidrogen di use refinery, untuk memproduksi metanol dan mobility. Sementara sebagai penggerak hidrogen akan menggunakan nuklir agar bisa memproduksi energi murah.

Advertisement

Saat ini, Pertamina memiliki pembangkit listrik tenaga panas bumi yang menghasilkan sekitar 700 MW dan akan ditambah 55 MW lagi pada 2020. Dadi mengakui penambahan ini kecil karena banyaknya tantangan dalam pengembangan geothermal.

"Yang sudah komersial adalah geotermal kita udah 700 sekian MW. Nanti 2020 tambah 55 MW ini masih rendah, banyak persoalan," katanya.

Advertisement

Akui Sulit Kembangkan Energi Terbarukan

Sebelumnya, Dadi mengakui cukup sulit untuk mengembangkan energi terbarukan atau renewable energy di Indonesia. Salah satu penyebabnya adalah harga yang terlalu tinggi untuk bisa masuk ke arah sana.

"Renewable energi itu mahal," kata dia.

Kendati begitu, dirinya meyakini ke depan energi terbarukan bisa dapat lebih murah sehingga bisa dikembangkan di Indonesia.

"Sebenarnya seiring berjalannya waktu degan produk semakin massal produk bisa makin murah, tapi memang di awal butuh kerelaan dari pemerintah dan konsumen," jelas dia.

(mdk/idr)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.