Pertamina akui tengah 'bergantung' minyak dari Aljazair
Terdapat tiga lapangan migas di Aljazair dengan total para pekerja terbanyak 30 Warga Negara Indonesia (WNI).
Anak usaha PT Pertamina (Persero), Pertamina International EP (PIEP) mengaku sejak beberapa tahun lalu Indonesia 'bergantung' produksi minyak dan gas (migas) di Aljazair. Bahkan, terdapat tiga lapangan migas di negara tersebut dengan total para pekerja terbanyak 30 Warga Negara Indonesia (WNI).
"Sejak tahun 1955 hubungan baik terjalin dengan pemerintah Aljazair, kita selalu diberikan kepercayaan. Bahkan, saya dapat bilang kami Pertamina bukan orang hebat, kalau kita welcome dengan pemerintah Aljazair pasti kita susah," ujarnya di Kantor Pusat Pertamina, Jakarta, Selasa (22/12).
Menurut dia, Kementerian Energi Aljazair melalui ALNAFT dan Sonatrach menyetujui RDP 2015 sehingga Pertamina dapat meningkatkan produksi dari 15.500 BOPD menjadi 29.000 BOPD di 2019 mendatang. Ke depan, PIEP akan mengirimkan rig ke Aljazair untuk mendukung implementasi RDP 2015 dengan rincian pemboran 20 sumur dan workover 16 sumur.
Di samping itu, Slamet menjelaskan dari tiga aset Pertamina di Irak, Aljazair dan Malaysia secara keseluruhan minyak dari operasi internasional diutamakan ke kilang Pertamina. Ada juga sebagian minyak secara operasional harus dijual ke pasar internasional pada saat pencapaian minyak tidak sesuai dengan jadwal dan spesifikasi minyak yang diperlukan oleh kilang Pertamina.
Dari operasi di 2015 sampai akhir tahun akan mencapai 19 kali dengan pencapaian volume 11,6 juta barel, dimana sebagian besar minyak masuk ke kilang Balikpapan dan Cilacap.
"Di tahun-tahun mendatang jumlah minyak tersebut akan terus meningkat seiring dengan kenaikan produksi dari operasi internasional Pertamina," pungkas dia.
Baca juga:
Kelola blok migas di luar negeri, Pertamina andalkan 300 karyawan
Olah blok migas asing, Pertamina target produksi 104 ribu boepd 2016
SKK Migas: Produksi gas masih lebih baik ketimbang minyak
Penerimaan negara dari sektor migas baru 83 persen dari target
Harga minyak murah, impor dinilai lebih baik dibanding produksi