Pengusaha minta helikopter di Indonesia boleh terbang malam
Bisnis sewa helikopter di saat kondisi gelap sangat menjanjikan.
Kementerian Perhubungan ternyata selama ini hanya mengizinkan helikopter tujuan tertentu untuk terbang malam hari. Padahal bisnis sewa helikopter di saat kondisi gelap sangat menjanjikan.
Ketua Penerbangan Non-Jadwal Asosiasi Maskapai Komersial Indonesia (INACA), Denon Prawiraatmadja, menuturkan sudah banyak perusahaan Eropa dan Amerika Serikat melirik kesempatan terbang malam buat helikopter di Indonesia. Utamanya buat melayani perusahaan minyak dan gas yang lokasinya di daerah terpencil atau di anjungan lepas pantai.
Dia meyakini bila aturan terbang malam ini dikeluarkan untuk umum, maka industri penerbangan komersial Indonesia akan semakin berkembang.
"Bisnis air charter ini masih bisa berkembang. Sementara di beberapa negara helinya punya kemampuan dan diizinkan terbang malam. Saya prihatin kita ketinggalan dalam melakukan efisiensi seperti itu," kata Denon di Kawasan Halim, Jakarta Timur, Rabu (5/2).
Selain alasan bisnis, mengizinkan helikopter terbang malam bisa membantu kepentingan darurat. Denon menceritakan, evakuasi kecelakaan tambang di waktu maghrib, hanya akan dapat ditangani dengan kendaraan darat. Sebab, tidak ada izin pemerintah buat menerbangkan helikopter selepas pukul 16.00.
"Bayangkan kalau ada evakuasi medis seperti itu, perusahaan terpaksa pakai jalur darat yang butuh 8 jam perjalanan. Padahal kalau helikopter cukup 30-40 menit," tandasnya.
Denon mengingatkan bahwa ketika izin terbang malam diberikan, bukan berarti perusahaan asing yang akan merajalela. Justru, banyak perusahaan domestik yang sudah memiliki armada helikopter dengan menembus langit gelap.
"Ibaratnya kita sudah beli mobil dengan kemampuan visual malam, tapi sepanjang pemerintah tidak beri ketentuan terbang malam, kita enggak bisa," katanya.
Di sisi lain, pangsa pasar bisnis penyewaan pesawat dan helikopter diyakini INACA masih berkembang. Selain tidak terikat fluktuasi harga bahan bakar dan kurs, banyak pemain lokal yang sudah melayani kontrak eksklusif dengan perusahaan tambang atau migas.
Denon mencatat, ada 24 perusahaan penyewaan pesawat, enam melayani penerbangan khusus migas.
Dengan kondisi perekonomian Indonesia tahun ini stabil, dia meyakini pangsa pasar air charter bisa melampaui capaian tahun lalu yang tumbuh 6 persen.
"Saya optimis air charter market share-nya, ditopang kontrak migas maupun jet pribadi, bisa tumbuh dua digit tahun ini," ungkapnya.(mdk/bim)