Pengembangan Pelabuhan Belawan butuh Rp 2,26 triliun
Arus peti kemas yang masuk dan keluar Indonesia akan semakin besar.
Kebutuhan akan terminal peti kemas kapasitas besar disebut-sebut sebagai prioritas utama pemerintah dan dituangkan dalam Masterplan Percepatan Pembangunan dan Perluasan Ekonomi Indonesia (MP3EI). Pemerintah kemudian menjadikan beberapa pelabuhan menjadi titik sentral pertumbuhan ekonomi, salah satunya adalah Pelabuhan Belawan.
Dirjen Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan Bobby Mamahit mengatakan, Pelabuhan Belawan memiliki fungsi yang sangat strategis dalam pembangunan ekonomi nasional. Alasannya, Belawan merupakan gerbang distribusi logistik baik domestik maupun asing.
"Pengembangan Belawan harus segera dilaksanakan," ujar Bobby dalam penandatangan perjanjian konsesi pengusan terminal peti kemas Belawan di kantornya, Jakarta, Jumat (4/4).
Bobby mengatakan arus peti kemas yang masuk dan keluar Indonesia akan semakin besar. Kondisi ini menuntut fasilitas terminal lebih banyak lagi.
"Kapasitas total Belawan akan menjadi 2,2 juta TIUs setelah dibangun dari sebelumnya 1,2 TIUs," ungkap dia.
Selanjutnya, Bobby menerangkan, pembangunan terminal ini dibagi ke dalam dua fase. Fase pertama berupa reklamasi lapangan penumpukan seluas 10 hektar sedangkan fase kedua berupa pembangunan konstruksi.
Pembangunan ini akan dilakukan oleh PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) I dengan biaya yang berasal dari kerja sama dengan Islamic Development Bank (IDB) untuk fase pertama. "Sedangkan pekerjaan pembangunan terminal peti kemas fase II akan dibiayai seluruhnya dengan menggunakan dana PT Pelindo I," ungkap Bobby.
Lebih lanjut, Bobby mengatakan, nilai investasi dalam pembangunan ini sebesar Rp 2,26 triliun dan konsesi antara Pelindo I dengan pemerintah akan berjalan selama 70 tahun."
Pemerintah akan memperoleh konsesi sebesar 0,5 persen dari pendapatan kotor yang akan menjadi Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP)," pungkas dia.
(mdk/noe)