Pengembangan EBT terkendala kemampuan SDM
Di daerah banyak yang mengoperasikan pembangkit mikro hidro merupakan orang lulusan SD.
Pemanfaatan energi baru dan terbarukan (EBT) masih minim di Indonesia. Meskipun, penggunaan EBT sering kali digembar gemborkan pemerintah.
Direktur Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan (Ibeka) Tri Mumpuni mengatakan banyak proyek EBT yang mangkrak. Sebab, pemerintah harus mengimpor teknologi dari luar negeri.
"Turbin angin tuh kita banyak yang tidak jalan karena teknologi biasanya impor. Teknologinya beda karena di luar negeri sub tropis," ujar Tri di Graha PPI, Jakarta, Kamis (21/4).
Selain persoalan teknologi, ketersediaan tenaga ahli yang mampu mengoperasikan perangkat EBT di pelosok daerah pun masih minim. Bahkan, di daerah banyak yang mengoperasikan pembangkit mikro hidro merupakan orang lulusan SD.
"Sebagian besar operator mikro hidro kota itu S3, alias kelas 3 SD. Bahwa di daerah terpencil, cari sarjana saja alhamdulillah. Solar cell mangkrak karena ini canggih. Masyarakat belum diajarkan," tegas dia.
Untuk itu, Tri menyoroti generasi muda untuk lebih peka berbagi ilmu kepada masyarakat awam seputar operasional EBT di daerah-daerah. Menurut dia, Indonesia masih kalah dalam pengembangan tenaga surya atau solar cell.
"Malaysia sudah punya 20 juta dolar AS per tahun untuk riset solar cell. Siapapun yang datang ke ESDM, saya minta untuk bisa me-localized teknologi. Minimal 50 persen dulu," pungkas dia.
Baca juga:
Pasokan PLN tipis, Bandara Gorontalo pakai pembangkit tenaga magnet
Menengok proyek pembangkit listrik tenaga nuklir pertama Belarusia
ESDM bentuk badan usaha baru genjot penggunaan energi terbarukan
Kembangkan energi bersih, ESDM bakal ikut pameran di Kazakhstan
PLN bakal coba pakai energi terbarukan untuk terangi Nias
Bappenas sebut Swiss berminat kerja sama pengembangan energi
Swiss minat bangun pabrik sel surya di Indonesia