Pengelolaan utang asing buruk jadi sebab Menteri Rini pecat bos RNI
Selain utang, bos RNI juga dinilai tak becus mengurusi bisnis komoditas utamanya yakni gula.
Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno telah memecat Direktur Utama PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) Ismed Hasan Putro. Pasalnya, Menteri Rini menilai kinerja RNI di bawah kepemimpinannya jeblok.
Menteri Rini mengungkapkan ada dua alasan yang menjadi dasar pemecatan bos RNI tersebut. Pertama, RNI mengalami kerugian utang valas akibat tidak dikelola dengan baik. "Perusahaan rugi valas karena tidak tercover dengan baik. Itu kami tekankan kesalahan manajemen," ujar dia di Kementerian BUMN, Jakarta, kamis (7/5).
Faktor kedua adalah kinerja RNI yang buruk dalam mengelola pabrik gula. Dari alasan itulah yang jadi pertimbangan Rini memecat Ismed Hasan Putro.
"Kita anggap dia tidak menjalankan manajemen dengan baik. Kita lihat semua demikian. RNI core itu masih jadi sebagai pabrik gula. Ini tidak termanage dengan baik." kata dia.
Sebelumnya, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno melengserkan Ismed Hasan Putro dari kursi direktur utama PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI). Pertimbangannya, kinerja perusahaan pelat merah bergerak di bidang agroindustri, farmasi dan distributor alat kesehatan itu jeblok tahun lalu.
"Performa RNI sangat jelek di 2014, oleh karena itu dilihat karena situasi tidak kondusif kemudian diusulkan penggantian," kata Rini.
Sayang, Rini enggan mengungkapkan lebih jauh perihal kepemimpinan Ismed di BUMN produsen kondom itu. Sejauh ini, Kementerian BUMN belum menemukan pengganti Ismed.
"Sekarang sedang diproses assesmen calon-calonnya," ungkapnya. "Setelah dua minggu akan diputuskan."
Ismed diangkat menjadi dirut RNI pada Maret 2012. Kala itu, Kementerian BUMN dipegang Dahlan Iskan. Menilik itu, masa jabatan Ismed seharusnya habis pada 2017.(mdk/bim)