Penerimaan pajak empat sektor tak maksimal
Empat sektor tersebut adalah sektor industri manufaktur, industri pertambangan, keuangan, serta sektor perkebunan.
Penerimaan pajak tahun lalu hanya 96,4 persen dari target, atau hanya Rp 1.016 triliun. Realisasi penerimaan pajak tahun lalu diakui lebih rendah dibanding 2011 yang mencapai 99,5 persen.
Dirjen Pajak Fuad Rahmany mengakui penurunan penerimaan perpajakan karena dampak krisis global yang menghantam empat usaha sektoral yang selama ini menjadi penyetor pajak terbesar.
"Sektor-sektor itu terkena imbas resesi global atau perlambatan global," ucap Fuad dalam konfrensi pers di Jakarta, Senin (14/1).
Fuad menyebutkan, empat sektor tersebut adalah sektor industri manufaktur, industri pertambangan, keuangan, serta sektor perkebunan.
"Industri manufaktur mengalami perlambatan dibandingkan tahun lalu, Industri pertambangan mengalami perlambatan, Keuangan juga turun dan perkebunan seperti sawit juga mengalami perlambatan perusahaan karena laba mereka turun, penerimaan pajak kita turun," jelasnya.
Sejalan dengan turunnya penerimaan pajak dari empat sektor tersebut, jumlah wajib pajak pun turun. Penurunan 1.000 WP ini menurunkan pendapatan pendapatan pajak senilai Rp 53 triliun.
"Mereka bukan ngemplang. Mereka bayar pajak namun memang ada penurunan karena sektor usaha mereka turun," tegasnya.
Rendahnya persentase pencapaian target pajak ini terjadi karena rendahnya kinerja penerimaan pajak pada Kanwil Wajib Pajak Besar. Pencapaiannya hanya 89 persen dari target yang ditetapkan.
"Tahun 2012 target penerimaan di Kanwil besar jauh dari harapan kita. Tidak sampai 90 persen, hanya 89 persen. Harapan kita 98 persen.Kanwil wajib pajak besar karena perusahaan besar penyumbang pajak menurunkan pajak karena terimbas krisis global tadi," tutupnya.
(mdk/noe)