Peneliti: Vape banyak dijadikan peralihan produk rokok konvensional
Dari riset yang telah berjalan selama dua tahun, Satriya mengaku banyak sekali hal baru yang dia temukan seputar pengguna vape dan bagaimana anggapan masyarakat terhadap produk tersebut.
Peneliti sekaligus dosen Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Padjajaran, Dr. Satriya Wibawa Suhardjo menyebut bahwa rokok elektrik atau yang biasa disebut vape banyak dijadikan pilihan produk alternatif sebagai peralihan konsumsi rokok konvensional.
"Sejak dua tahun lalu ketika vape mulai menjadi suatu fenomena sosial di banyak daerah, terutama di Bandung, saya mulai aktif melakukan observasi lebih jauh. Ternyata, vape ini pertumbuhannya masih terus progresif bahkan banyak digunakan sebagai peralihan untuk mengurangi jumlah perokok," kata Satriya seperti dikutip dari Antara, Senin (16/7).
Dari riset yang telah berjalan selama dua tahun, Satriya mengaku banyak sekali hal baru yang dia temukan seputar pengguna vape dan bagaimana anggapan masyarakat terhadap produk tersebut.
"Dari hasil penelitian yang saya pelajari selama melakukan observasi dua tahun belakangan serta paparan para ahli, saya melihat bahwa mispersepsi mengenai vape ini semakin luas digeneralisasi sehingga menjadi semakin negatif, dan ini yang terjadi di masyarakat kita," kata Satriya.
Satriya yang penelitiannya terpilih untuk dipresentasikan pada acara Global Forum on Nicotine di Warsaw, Polandia pada 14-16 Juni 2018 lalu, menyampaikan para peneliti yang hadir dari 50 negara tersebut dalam pemaparannya mengamini pengurangan bahaya yang terdapat dalam produk tembakau alternatif dapat dijadikan solusi untuk mengatasi permasalahan rokok.
Namun perihal risiko kesehatan yang terdapat dalam produk tembakau alternatif, seperti vape dan produk tembakau yang dipanaskan bukan dibakar, masih dipertanyakan oleh sebagian masyarakat karena dianggap tidak berbeda dengan rokok konvensional.
Satriya mengungkapkan bahwa hal ini terjadi karena adanya mispersepsi. "Padahal dari hasil-hasil penelitian internasional yang juga dibahas pada forum ini, fakta ilmiahnya menunjukkan bahwa vape memiliki potensi risiko kesehatan jauh lebih rendah dibandingkan rokok, bahkan hampir 95 persen," kata dia.
Satriya juga mengatakan bahwa salah satu alasan produk tembakau alternatif seperti vape bisa berkembang dengan cepat karena sudah banyak perokok yang berhasil berhenti dengan beralih menggunakan vape. Selain itu produk tersebut penggunaannya juga dinilai lebih mudah diadopsi oleh perokok.
"Meskipun sampai saat ini harganya masih mahal, tetapi bisa membantu perokok untuk berpindah maka akhirnya ini yang dipilih," jelas Satriya.
Data Direktorat Jenderal Bea Cukai Kementerian Keuangan menunjukkan bahwa pengguna vape pada tahun 2017 telah mencapai sekitar 950 ribu orang dengan 650 ribu di antaranya merupakan pengguna aktif.
(mdk/idr)