Peminat obligasi KAI tembus Rp 5,2 triliun
Direktur Keuangan PT KAI Didiek Hartantyo melakukan pencatatan obligasi pertama sebesar Rp 2 triliun. Menurutnya, pencatatan ini merupakan keberhasilan KAI mengingat peminat obligasi pertama KAI tembus Rp 5,2 triliun atau melebihi 2,5 kali lipat dari penawaran obligasi.
Direktur Keuangan PT KAI Didiek Hartantyo melakukan pencatatan obligasi pertama sebesar Rp 2 triliun. Menurutnya, pencatatan ini merupakan keberhasilan KAI mengingat peminat obligasi pertama KAI tembus Rp 5,2 triliun atau melebihi 2,5 kali lipat dari penawaran obligasi.
Dia mengatakan penawaran ini merupakan penawaran perdana bagi KAI dengan porsi obligasi sebesar Rp 2 triliun yang dibagi menjadi dua seri. Seri A berjangka waktu 5 tahun dengan indikasi tingkat kupon obligasi 7,75 persen per tahun dan Seri B berjangka waktu 7 tahun dengan indikasi tingkat kupon obligasi 8,25 persen per tahun.
"Kami bangga atas keberhasilan KAI dalam meluncurkan Obligasi pertama ini sesuai rencana dengan memanfaatkan kondisi suku bunga yang rendah saat ini. Meskipun ini kali pertama KAI melakukan penawaran umum di Pasar Modal, tetapi permintaan terhadap Obligasi perusahaan kami tetap tinggi," ujar Didiek di Gedung BEI, Jakarta, Rabu (22/11).
Didiek mengatakan kinerja keuangan perusahaan yang baik dan proyeksi arus kas yang kuat membuat perusahaan mendapatkan peringkat obligasi yang bagus ditambah hasil book building yang sangat memuaskan. Peringkat obligasi KAI mendapat peringkat Triple A (AAA) dari Pefindo artinya stable outlook.
Dana dari hasil penawaran umum tersebut sebesar 55 persen akan digunakan untuk penyelesaian proyek KA Bandara Soekarno Hatta. Sementara 45 persen akan digunakan untuk pengadaan kereta untuk meningkatkan service level angkutan penumpang, dan untuk mempertahankan serta meningkatkan pangsa pasar angkutan penumpang.
“Dukungan yang kuat dari Pemerintah terhadap KAI dapat terlihat dari Pemerintah yang mempertahankan kepemilikan 100 persen di KAI. Sebab, KAI merupakan BUMN yang menyelenggarakan dan mengoperasikan jasa angkutan kereta api di seluruh Indonesia," jelas Didiek.
Selama lima tahun terakhir, KAI mencatatkan pertumbuhan pendapatan dengan CAGR sebesar 20,04 persen dan rata-rata pertumbuhan laba bersih dengan CAGR sebesar 24,41 persen. Di samping itu, berdasarkan laporan posisi keuangan, peningkatan jumlah aset dengan CAGR sebesar 29,41 persen serta diiringi pertumbuhan ekuitas dengan CAGR sebesar 16,22 persen .
Pada posisi triwulan III Tahun 2017, total asset KAI mencapai Rp 28 triliun dan KAI mampu mencatatkan pertumbuhan total aset sebesar 11,37 persen. Pertumbuhan total liabilitas sebesar 11,13 persen dan pertumbuhan total ekuitas sebesar 11,75 persen. Jika dibandingkan dengan periode 30 September 2016, KAI mampu mencatatkan pertumbuhan pendapatan sebesar 20,55 persen dan pertumbuhan laba bersih hingga 47,32 persen.
Beberapa proyek yang saat ini sedang ditangani oleh KAI diantaranya pembangunan KA Bandara Soekarno-Hatta melalui Perpres No. 83 Tahun 2011, dengan target pengoperasian di awal Tahun 2018. Target perolehan pendapatan di Tahun 2018 dari pengoperasian KA Basoetta sebesar Rp 122 miliar dan meningkat menjadi Rp 557 miliar di Tahun 2019.
Selain itu KAI juga mendapatkan penugasan dari Pemerintah melalui Perpres No. 49/2017 tentang percepatan penyelenggarakan Kereta Api Ringan (Light Rail Transit) terintegrasi di wilayah Jakarta, Bogor, Depok dan Bekasi. KAI juga diberikan penugasan melalui Perpres 55/2016 untuk mengoperasikan LRT (Light Rail Transit) di Provinsi Sumatera Selatan.
Baca juga:
Menteri Rini angkat Henry Sihotang jadi bos baru PT PPA
Awal 2018, Pegadaian bakal terbitkan obligasi Rp 3,5 triliun
Barang-barang unik digadaikan di Pegadaian, dari pompa air hingga keris
Minat kaum pria terhadap sistem gadai barang cenderung rendah
Rahasia BUMN tekan harga makanan di Puncak Jaya hingga lebih murah 25 persen
Per Oktober 2017, Pegadaian raup pendapatan Rp 8,64 triliun
Di era Jokowi, harga semen di Papua turun dari Rp 2 juta menjadi Rp 500.000 per sak