Pemerintah tak serius perhatikan sektor gas untuk industri UKM
Tak lancarnya ketersediaan gas mengganggu industri UKM dalam negeri.
Indonesia sudah memasuki era keterbukaan pasar bebas ASEAN atau Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). MEA dinilai sebagai momen penggerak industri kecil untuk bisa bersaing di pasar global.
Praktisi industri pengguna gas nasional, Achmad Widjaja menilai, industri kecil saat ini mayoritas menggunakan gas untuk bisa beroperasi. Namun, pemerintah tampaknya belum memperhatikan sektor gas untuk industri ini.
"MEA semua takut, tapi dua bulan ini sepi-sepi saja. MEA ini penggerak UMKM. Namun, untuk CNG (compressed natural gas/gas alam terkompresi), pipanisasi, tidak pernah dikumandangkan. Kenapa CNG enggak digalakkan untuk industri kecil?" kata Achmad di Hotel Akmani, Jakarta, Rabu (10/2).
Selain itu, Achmad juga menilai pemerintah tidak serius mengonversi bensin ke gas untuk bahan bakar mobil. "LNG konverter enggak berhasil, pemerintah enggak serius. Contoh Konverter mobil 15 juta," ucapnya.
Menurutnya, sektor industri membutuhkan bahan bakar yang murah, berlimpah dan ramah lingkungan. Itulah alasan sektor industri lebih memilih gas dari pada bahan bakar lain.
Namun, Achmad menilai, pemerintah masih belum serius membangun infrastruktur gas, baik untuk industri maupun kebutuhan rumah tangga. "Industri biar enggak kacau, CNG harus dijalankan. Ini PR yang pemerintah harus lakukan," kata Achmad.
"PLN pakai gas untuk utilisasi. Sedangkan industri pakai gas untuk semuanya. Pupuk jelas untuk bahan bakar," tegasnya.
Baca juga:
Pemerintah dorong UKM gabung e-commerce dan tembus pasar dunia
Belum melek teknologi, pengusaha UKM sulit beralih ke online
Airnav kucurkan Rp 734 juta buat 17 UKM di Tangerang
Kadin sesalkan untung produk Indonesia banyak 'dicuri' negara lain
ISEI nilai produk Indonesia masih kalah bersaing