Pemerintah Sebut Masih Ada 13.000 Desa Belum Tersentuh Internet
Wakil Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Wamendes PDTT), Budi Arie Setiadi, menyebutkan masih ada 13.000 desa yang hingga saat ini belum memiliki akses internet. Belum adanya jaringan internet membuat pemberdayaan ekonomi sulit dilakukan.
Wakil Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Wamendes PDTT), Budi Arie Setiadi, menyebutkan masih ada 13.000 desa yang hingga saat ini belum memiliki akses internet. Belum adanya jaringan internet membuat pemberdayaan ekonomi sulit dilakukan.
"Sementara jaringan internet menjadi penting untuk mengetahui bagaimana desa-desa, terutama dalam kepemilikan terhadap akses menuju digital marketing, terutama dalam digitalisasi ekonomi," ujarnya dalam webinar Digitalisasi BUMDes Menuju New Normal Ekonomi Indonesia, Rabu (27/5).
Untuk itu, lanjut Budi, perlu ada terobosan baru dengan BUMDes agar perekonomian desa bisa bergerak bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik, namun juga pasar mancanegara.
"Saya selalu ingat bahwa bangsa Indonesia ini cuma memiliki 3 keunggulan, kompetitif, atau kita sebut absolute competitive advantage kita sebagai bangsa, nah itu 3 sektor, pertanian, perikanan, dan pariwisata," ujar Budi.
Ketiga sektor tersebut merupakan kekuatan utama bangsa Indonesia. Sehingga Budi mengatakan perlunya konsentrasi penuh untuk pengembangannya, bukan hanya sekedar mengelola dan memproduksi. Tapi juga bagaimana agar dapat memberikan nilai tambah bagi kemajuan ekonomi.
"Jadi, Indonesia yang punya 74.953 desa ini bisa digarap potensinya dengan pendekatan kreatif untuk dikembangkan potensinya," beber Budi.
93 Produk E-Commerce Berasal Dari Impor
Menurut Budi, ada 3 unsur kegiatan utama ekonomi, yakni produksi, distribusi, dan konsumsi. Seiring dengan maraknya e-commerce, Budi mengimbau agar jangan sampai masyarakat desa hanya menjadi konsumen.
"Desa jangan sebagai konsumen saja. Karena pelajaran kita dari e-commerce yang melanda Indonesia ini kemajuan yang begitu pasif 3-5 tahun ini, ternyata barang-barang impor lebih banyak masuk ke dalam sistem perekonomian Indonesia. Hampir 93 persen barang-barang e-commerce itu adalah barang-barang impor," kata dia.
Budi menyambut baik keterlibatan banyak pihak, termasuk Jaringan Pengusaha Nasioanal (Japnas) dalam pengembanagn BUMDes ini. "Karena itu, saya berharap mudah-mudahan teman-teman yang punya inisiatif, kreatifitas, punya inovasi, didorong BUMDes-nya agar bisa berkembang dan maju,"
"Walaupun kita tahu bahwa kondisi BUMDes saat ini memang masih banyak persoalan yang harus kita tangani," sambungnya.
Adapun salah satu persoalan yang dimaksudkan adalah berkurangnya anak muda yang tinggal di desa, sementara lebih banyak dihuni oleh pensiunan. Sehingga daya serapnya terhadap perkembangan teknologi relatif kurang.
"Digital marketring ini penting memang, aplikasi-aplikasi yang sudah bekerjasama dengan Kemendes kita dorong terus, karena dunia digital marketing ini kan dunia tanpa batas, kita tidak tahu ke depan (seperti apa)," pungkas Budi.
Reporter: Pipit Ika Ramadhani
Sumber: Liputan6
(mdk/bim)