Pembuat kebijakan RI kerap 'dipusingkan' persoalan data
Ketua Dewan Komisoner Lembaga Penjaminan Simpanan (LPS), Halim Alamsyah, mengungkapkan beberapa persoalan yang dihadapi para pelaku pembuat kebijakan. Persoalan umumnya lahir dari hasil riset yang dilakukan berbagai lembaga tidak terukur dengan tepat.
Ketua Dewan Komisoner Lembaga Penjaminan Simpanan (LPS), Halim Alamsyah, mengungkapkan beberapa persoalan yang dihadapi para pelaku pembuat kebijakan. Persoalan umumnya lahir dari hasil riset yang dilakukan berbagai lembaga tidak terukur dengan tepat.
"Saya hanya ingin menyampaikan beberapa observasi yang terjadi akhir-akhir ini yang cukup menarik untuk kita dalami. Misalnya, mengapa sekarang para pembuat kebijakan khususnya, dan juga para analis tampaknya kesulitan untuk prediksi perilaku pasar," kata Halim dalam dalam acara yang di gelar di Hotel JS Luwansa, Jakarta, Selasa (25/6).
Halim mencontohkan, belum lama ini ada beberapa hasil riset yang telah didiskusikan bersama LPS seperti mengenai apa yang sebenarnya terjadi dengan tingkat pendapatan masyarakat di Indonesia. Namun dari hasil riset tersebut pihaknya tidak begitu mudah mempercayai. Sehingga dibutuhkan pendalaman lebih teliti lagi sebelum mendapatkan kesimpulan yang meyakinkan.
"Dari hasil riset itu, banyak teori dan pendapat yang telah diajukan. Tampaknya kita masih harus mendalami lebih teliti lagi," imbuhnya.
Halim menyebut, dalam konteks pembuatan kebijakan, kesulitan yang sama juga dapat dilihat. Di mana para pembuat kebijakan sering kali harus menggunakan escape clause, di mana keputusan mereka didasarkan kepada hasil analisis atas data yang paling baru.
"Apakah selama ini data yang mereka gunakan memang kurang, atau kah ada sesuatu lain yang terjadi dalam pola perilaku pelaku ekonomi sehingga para pembuat kebijakan sulit menduga dengan tepat?," kata Halim sambil mempertanyakan.
"Ini menurut hemat saya menjadi tantangan para pembuat kebijakan dan kiranya patut kita teliti dengan mendalam mengapa hal ini sampai terjadi," pungkasnya.
Baca juga:
LPS danai delapan riset sistem keuangan Tanah Air, ini daftarnya
LPS: Penyelesaian defisit transaksi berjalan bersifat jangka menengah
LPS sebut perbankan Indonesia aman dari gejolak ekonomi dunia
Per 31 Juli 2018, LPS catatkan aset mencapai Rp 101,3 triliun
LPS naikkan suku bunga penjaminan sebesar 25 bps, berlaku besok
Likuditas perbankan mulai ketat, kenaikan suku bunga deposito tak bisa dihindari
Bos LPS: Tren suku bunga murah sudah berakhir