LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. UANG

Pefindo Turunkan Peringkat Utang Semen Indonesia jadi idAA

Analis Pefindo, Gifar Indra Sakti mengatakan, penurunan peringkat merefleksikan ekspektasi terhadap leverage keuangan SMGR yang akan tetap tinggi secara signifikan.

2019-11-19 16:29:32
Semen Indonesia
Advertisement

PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menurunkan peringkat utang PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR) dan Penawaran Umum Berkelanjutan (PUB) obligasi I tahun 2017 dan 2019 menjadi idAA dari idAA+.

Analis Pefindo, Gifar Indra Sakti mengatakan, penurunan peringkat merefleksikan ekspektasi terhadap leverage keuangan SMGR yang akan tetap tinggi secara signifikan.

Hal ini berasal dari akuisisi Holcim Indonesia (berubah nama menjadi Solusi Bangun Indonesia atau SBI) dan sinergi antara SBI dan SMGR yang lebih lambat daripada yang diharapkan di tengah kondisi industri yang relatif lemah.

Advertisement

"Sekitar 70 persen dari produksi semen nasional dikonsumsi oleh pasar properti, sektor yang kami anggap sedang melambat," ujarnya Selasa (18/11).

Di semester I-2019 saja, leverage SMGR yang diukur dengan debt to EBITDA, meningkat 5,4 kali, sedangkan EBITDA to interest perusahaan juga melemah menjadi 2,1 kali.

"Leverage keuangan yang tinggi, kompetisi industri yang ketat, dan paparan volatilitas di sektor properti dan konstruksi membatasi peringkat menurut pandangan kami," tegasnya.

Advertisement

Adapun obligor berperingkat idAAA merupakan peringkat tertinggi yang diberikan oleh Pefindo. Kemampuan obligor untuk memenuhi komitmen keuangan jangka panjangnya, relatif terhadap obligor Indonesia lainnya adalah superior.

Pefindo Ramal Penerbitan Surat Utang Capai Rp158 Triliun di 2020

PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) memproyeksi total penerbitan surat utang baik dari sukuk dan obligasi akan menembus Rp158 triliun di tahun 2020.

Kendati begitu, Pefindo memperkirakan imbal hasil (yield) untuk penerbitan sukuk korporasi akan kembali menurun pada tahun depan.

Analis Pefindo, Fikri Permana menjelaskan, potensi penurunan dilihat dari probabilitas Bank Indonesia (BI) yang masih memiliki ruang terhadap penurunan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin (bps) sampai tahun depan.

"Ini tak hanya terjadi pada sukuk tapi juga semua surat utang. Dan imbal hasil sukuk kan tidak mengacu pada tingkat kupon tertentu. Secara indikasi, nilai kuponnya atau yield tergantung kondisi pasar saat diterbitkan," tuturnya di Jakarta, Selasa (19/11).

Namun, secara umum pihaknya menyebut tren penerbitan sukuk terus mengalami perbaikan. Ini diikuti pemahaman terhadap instrumen sukuk yang semakin baik, literasi atau pengetahuan terkait ekonomi Islam juga semakin berkembang.

"Karena itu, keberadaan sukuk diharapkan bisa jadi pendorong pada penerbitan surat utang tahun depan," ujarnya.

(mdk/idr)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.