Pedagang nilai kebijakan impor beras Pemerintah Jokowi tak efektif turunkan harga
Ketua Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) Ngadiran menilai, kebijakan impor beras sebanyak 500.000 ton tersebut bertolak belakang dengan pernyataan Menteri Pertanian Amran Sulaiman, yang menyatakan bahwa stok beras di Indonesia mengalami surplus.
Ketua Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) Ngadiran menilai, kebijakan impor beras sebanyak 500.000 ton tersebut bertolak belakang dengan pernyataan Menteri Pertanian Amran Sulaiman, yang menyatakan bahwa stok beras di Indonesia mengalami surplus.
"Kata Pak Menteri Pertanian, November banyak (beras). Tidak impor, tidak katanya. Tiba-tiba impor 500 ribu ton. Kita tidak alergi impor. Kalau memang barangnya (beras) tidak ada. Tetapi kalau Menterinya bilang ada, Menteri sudah ngomong barangnya cukup. Kalau stok di pasar barang tidak ada. Ke mana barang itu," ungkapnya kepada Merdeka.com, di Jakarta, Selasa (16/1).
Dia pun berharap Kementerian Pertanian bisa melakukan kajian ulang terhadap data pasokan dan produksi beras agar lebih lengkap dan spesifik lagi. "Di mana itu dasarnya surplus? Kalau padinya 4 ton atau kena banjir bagaimana? Jadi saya duga dari bawahan asal bapak senang. Data itu masih dari sawah, kabupaten ini sekian hektar. Kalau dimakan wereng gimana," imbuhnya.
Jika untuk menurunkan harga beras, dia menilai kebijakan tersebut tidak efektif. Mengingat, sebentar lagi Indonesia memasuki masa panen sehingga dikhawatirkan akan merugikan petani.
"Ya tujuan mau buat apa (impor beras) Mau turunkan harga atau ada oknum mau cari untung. Terus kalau bicara impor bukan besok atau seminggu datang kan? Kalau 10 hari lagi. Ini 10 hari lagi sudah mulai panen sedikit-sedikit. Awal Februari panen. Nanti petani menjerit lagi dong," tegas dia.
Sementara itu, Pedagang Pasar Tanah Abang, Maman (55) menyayangkan kebijakan pemerintah untuk mengimpor beras dari Vietnam dan Thailand. "Sekarang kita impor dari Vietnam ya. Padahal dulu Vietnam itu berguru ya sama kita," ujar Maman.
Dia berharap kebijakan pemerintah, melalui Kementerian Perdagangan dapat berdampak pada terjangkaunya harga beras di pasar. "Kita (ingin) yang standar gitu saja yang biasa Rp 8.000 kembali ke Rp 8.000. Kalau kita jual murah kasihan petani. Kalau mahal kasihan pembeli. Kalau standar semua enak kan," tandasnya.
Baca juga:
Pedagang ungkap naiknya harga beras sejak November 2017
Mengaku sudah swasembada, Ganjar minta beras impor tak masuk ke wilayah Jateng
Selain impor, ini solusi jaga stabilitas pasokan beras RI
Pengamat: Impor beras tanda pemerintah masih punya kontrol
Bulog siapkan anggaran Rp 15 triliun untuk impor beras 500.000 ton