LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. UANG

Pariwisata Bali terancam tumpukan sampah di hutan mangrove

"Sehari ini sampah di Teluk Benoa yang ada disini menumpuk sampai 1,3 ton," ujar Steve.

2016-03-15 11:39:28
Bali
Advertisement

Ketua Forum Perduli Mangrove, Steve Sumolang mengeluhkan buruknya kondisi lingkungan di Teluk Benoa. Hal itu menyebabkan pariwisata Bali terancam rusak karena menumpuknya sampah membuat Kawasan Konservasi Mangrove mati.

"Sehari ini sampah di Teluk Benoa yang ada di sini menumpuk sampai 1,3 ton. Sampah dari pelabuhan dari Daerah Aliran Sungai Tukad Rangda, Tukad Badung, Tukad Mati, Tukad Sema, dan Tukad Bualu," ujar Steve kepada merdeka.com di Teluk Benoa, Badung, Bali, Senin (14/4).

Besarnya tumpuk sampah tersebut, kata Steve, dikhawatirkan akan membuat sampah-sampah tersebut memadat dan menjadi daratan. Terhitung sejak 2013, jumlah sampah yang berada di kawasan konservasi Mangrove Teluk Benoa mencapai 300 ton. Sampah-sampah tersebut didominasi oleh sampah rumah tangga dan sampah rumah sakit.

Advertisement

"Luas Taman Hutan Raya (Tahura) Ngurah Rai Mangrove 1.373 ha. Itu yang harus dipertahankan, karena sampah-sampah tersebut bisa mematikan mangrove jika didiamkan," kata dia.

Sementara itu, Ketua Dewan Daerah WALHI Bali, I Wayan Gendo Suardana mengaku sependapat dengan pernyataan Steve. Dirinya menyebut jika sampah-sampah yang ada di Mangrove akan mematikan kawasan konservasi tersebut dan mengancam pariwisata di Bali.

"Iya oke, itu dampak sampah. Kalau mangrove banyak sampah, sampahnya dibersihin atau teluknya diuruk?," kata Gendo.

Advertisement

Gendo menjelaskan, isu-isu permasalahan lingkungan kerap dimanfaatkan investor sebagai celah untuk membangun bisnisnya. Apalagi kawasan konservasi mangrove berada di Teluk Benoa yang notabene merupakan kawasan yang saat ini terus menjadi polemik terkait reklamasi Teluk Benoa.

"Ini tidak masuk akal, ini akan dikeruk habis itu air akan mengaliri mangrove, sampah-sampah dibersihkan untuk menghidupkan mangrove, yaudah lakukan itu tapi jangan ngeruk teluk seluas 700 hektar untuk membangun hotel dan fasilitas lain seolah-olah setelah mengeruk itu sampah bersih dari mangrove, sedimentasi langsung hilang," pungkas dia.

(mdk/sau)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.