LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. UANG

Pakar Soal Kasus Eiger: Brand itu Harus Adaptif dan 'Ngalah'

Pakar marketing Yuswohady menilai, apa yang diperbuat Eiger sudah tepat. Menurutnya, reputasi Eiger di mata netizen sebagai merek alat perlengkapan pegunungan ternama bisa saja rusak akibat kasus tersebut.

2021-01-30 19:21:47
Eiger
Advertisement

Eiger Adventure telah meminta maaf kepada Youtuber Dian Widiyanarko. Dian melalui akun Instagram @duniadian juga telah menerima permintaan maaf tersebut.

Pakar marketing Yuswohady menilai, apa yang diperbuat Eiger sudah tepat. Menurutnya, reputasi Eiger di mata netizen sebagai merek alat perlengkapan pegunungan ternama bisa saja rusak akibat kasus tersebut.

"Brand itu harus yang adaptif dan ngalah. Karena kalau kita ngelawan netizen kita tidak akan bisa. Apalagi netizen itu temannya banyak. Begitu ada satu dan dia dianggap benar menurut publik, meskipun yang me-review tidak benar, tapi dia mendapat simpati dari publik," ungkapnya kepada Liputan6.com, Sabtu (30/1).

Advertisement

"Ketika sudah mendapat simpati ya dia punya teman banyak. Dalam kondisi itu brand kalau mau lawan netizen, suara rakyat kan suara Tuhan, lebih baik mengalah," ujar Yuswohady.

Dia memuji sikap Eiger yang mau mengakui kesalahannya. Menurut dia, sikap netizen yang tadinya ramai-ramai geram terhadap merek tersebut pun perlahan akan hilang.

"Caranya Eiger sudah benar. Ketika ramai kan dihujat, lalu minta maaf. Ketika sudah minta maaf, ya sudah, cooling down," kata Yuswohady.

Advertisement

Dia juga memberi catatan Eiger, di mana diharapkan ke depannya tidak lagi jatuh di lubang yang sama. Sehingga Eiger tak memupuk citra buruk di mata netizen dan konsumen.

"Paling seminggu lagi setelah semua media sudah tidak ngomong maka ya kembali ke sedia kala, ketika brand-nya Eiger tidak jelek reputasinya. Ini kecelakaan kecil ya. Nanti akan balik seperti sedia kala," tuturnya.

Brand Diimbau Tak Gegabah Bawa Masalah ke Ranah Hukum

Era digital telah banyak membawa perubahan dalam kehidupan bermasyarakat. Termasuk dalam hal pemasaran (marketing), di mana aksi black campaign atau kampaye hitam secara virtual kerap dilancarkan untuk menjatuhkan suatu brand atau produk.

Pakar marketing Yuswohady menilai, kehadiran media sosial (medsos) seperti YouTube kini semakin memudahkan masyarakat untuk melancarkan kritikan langsung, baik yang bersifat membangun atau menjelekan terhadap sebuah brand atau produk.

Namun, ia meminta brand untuk coba mempelajari dahulu kritikan tersebut dengan lebih seksama. Agar jangan sampai balasan yang dilayangkan menimbulkan kegaduhan, meskipun cibiran yang disampaikan merupakan black campaign dari pihak kompetitor.

"Dalam konteks brand itu banyak kasus juga. Youtuber itu banyak yang kritik tapi dibayar kompetitor, itu black campaign. Makanya musti brand itu bisa identifikasi apakah youtuber ini mau mendiskreditkan atau mau jujur dengan kompetensi yang dimiliki, atau dibayar kompetitor," kata Yuswohady kepada Liputan6.com, Sabtu (30/1).

Yuswohady mengutarakan, suatu perusahaan sebaiknya tetap tenang jika menerima lontaran yang bersifat menjelekan. Namun jika itu telah dilakukan berulang kali dan meresahkan, perusahaan bisa saja membawanya ke ranah hukum.

Kendati begitu, Yuswohady mengimbau agar tidak coba bermain hukum. Sebab dampaknya di jangka panjang itu dapat merusak reputasi.

"Membawa ke ranah hukum itu alternatif yang paling terakhir sih, karena kalau sudah gitu nanti dampaknya lama, jauh, dan akan merusak reputasi brand," imbuh dia.

"Jadi misalnya ada orang dibayar kompetitor update terus-terusan ya dipantau aja. Jadi biasanya enggak sampai dibawa ke ranah hukum. Soalnya nanti kalau dibawa ke sana akan blunder, akan jadi bola liar," tambahnya.

Oleh karenanya, Yuswohady meminta suatu brand untuk lebih mencermati setiap kritikan atau cacian yang dilontarkan masyarakat di ranah medsos. Sebab belum tentu itu merupakan black campaign yang hendak menjatuhkan.

"Intinya secara umum brand enggak boleh marah dikritik. Kalau ada kritik dan itu mengganggu brand, mungkin dilihat motifnya itu, apakah betul-betul kritik membangun, mau mendiskreditkan, atau dibayar kompetitor," ujar Yuswohady.

Reporter: Maulandy Rizky Bayu Kencana

Sumber: Liputan6

(mdk/bim)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.