Pakai aplikasi SIPINDO, hasil panen petani meningkat 20 persen
Peningkatan produksi telah dirasakan oleh para petani cabai, tomat dan timun di wilayah Jawa Timur. Sejak diperkenalkan pada tahun lalu, aplikasi ini telah dimanfaatkan lebih dari 14.000 petani di berbagai wilayah. Diharapkan pada akhir 2019, aplikasi ini dapat membantu sekitar 100.000 petani Indonesia.
Kemajuan teknologi kini tidak hanya dirasakan oleh masyarakat kota. Melalui aplikasi Sistem Informasi Pertanian Indonesia (SIPINDO), para petani hortikultura di wilayah pedesaan juga bisa merasakan manfaat teknologi dalam pengelolaan lahan pertanian.
Ketua Yayasan Bina Tani Sejahtera Edwin Saragih mengatakan, dengan memanfaatkan aplikasi SIPINDO, para petani mampu meningkatkan hasil panen dan mengurangi biaya produksinya. Ini telah dirasakan oleh para petani cabai, tomat dan timun di wilayah Jawa Timur.
"Dari 10 demplot (demonstration plot) di wilayah Jawa Timur, itu ada petani yang hasil panennya meningkat 5 persen, 10 persen, 20 persen. Ada yang (hasil panennya) sama tapi ada penghematan biaya di pupuk," ujar dia di kawasan Tebet, Jakarta, Jumat (12/10).
Dia mengatakan, peningkatan ini karena petani bisa menyiapkan secara lebih akurat kebutuhan benih dan pupuk melalui pemanfaatan aplikasi SIPINDO. Sebab, aplikasi ini menyajikan informasi yang dibutuhkan petani seperti mengetahui tingkat kesuburan tanah agar lebih hemat dalam menggunakan pupuk, serta mendapat informasi mengenai perkiraan cuaca hingga harga dan tren permintaan komoditas di pasaran.
"Ini meningkat produksinya karena pemberian pupuknya lebih berimbang. Selama ini petani kan hanya berdasarkan perkiraan, padahal lahannya butuh pupuk jenis tertentu agar memberikan hasil panennya bisa lebih besar," kata dia.
Sejak diperkenalkan pada tahun lalu, aplikasi ini telah dimanfaatkan lebih dari 14.000 petani di berbagai wilayah. Diharapkan pada akhir 2019, aplikasi ini dapat membantu sekitar 100.000 petani Indonesia.
"14.000 itu masih terbilang kecil, mungkin di bawah 5 persen dari total petani, yang jumlahnya jutaan orang di seluruh Indonesia. Jadi potensinya masih sangat besar," ungkap dia.
Sebagai informasi, menurut data Kementerian Pertanian (Kementan), Produk Domestik Bruto (PDB) subsektor hortikultura pada 2025 diproyeksikan mencapai Rp 142,46 triliun atau meningkat 159 persen dibanding PDB di 2010.
Sementara di sisi penyerapan tenaga kerja, pada 2025 secara on farm subsektor hortikultura diproyeksikan akan menyerap 6,4 juta tenaga kerja dengan penyerapan terbesar dari usaha sayuran sebesar 68,5 persen. Apabila diperhitungkan kegiatan industri agribisnis hortikultura secara keseluruhan maka penyerapan tenaga kerja dari subsektor ini akan mencapai 19,7 juta jiwa atau meningkat 170 persen dibanding 2014.
Reporter: Septian Deny
Sumber: Liputan6
Baca juga:
Aplikasi ini bisa bantu petani tingkatkan hasil panen dan lepas dari tengkulak
Bertani di tengah kota, warga manfaatkan bantaran Kanal Barat untuk bercocok tanam
Ini penyebab turunnya produksi lada Bangka Belitung
Kementan diminta tinjau langsung kondisi paceklik di berbagai daerah
Sejak 2014 hingga 2017, program pengentasan impor Kementan dinilai BPK tak efektif
Produksi padi turun hampir 40 persen akibat kemarau panjang
Petani semakin sejahtera sepanjang September 2018, ini sebabnya