Pahami 3 Risiko Ini jika Ingin Jualan di Marketplace
CEO Qasir Michael Williem menyebut, kerap kali usahawan luput memperhatikan risiko yang muncul dari pemasaran melalui media sosial dan platform marketplace atau e-commerce.
Banyaknya migrasi pelaku UMKM ke skema pemasaran digital selama pandemi menandakan adanya permintaan konsumen yang terus berevolusi. Namun, dibalik peluang dan segala kemudahan, ada beberapa hal yang patut jadi pertimbangan pengusaha sebelum memutuskan terjun ke transformasi bisnis secara digital.
CEO Qasir Michael Williem menyebut, kerap kali usahawan luput memperhatikan risiko yang muncul dari pemasaran melalui media sosial dan platform marketplace atau e-commerce. Demikian dikutip keterangan resminya, Jakarta, Kamis (6/5).
"Kami menyadari usahawan mikro yang akan menjalani usaha online akan lebih mudah dengan memulai penjualannya di media sosial maupun marketplace. Namun, usahawan juga perlu mempertimbangkan risiko apa saja yang dihadapinya, di samping peluang dan benefit yang didapat jika hanya mengandalkan kedua media tersebut untuk pemasaran," jelas Michael.
Untuk mengendalikan risiko, penggunaan website menjadi sangat penting untuk membangun trust dan reputasi sebuah usaha. Kesadaran usahawan untuk memiliki landing page ataupun website sendiri akan terus bertumbuh.
Menurut pria yang akrab disapa Mike ini, setidaknya ada tiga jenis risiko dari media sosial dan marketplace yang dapat menjadi pertimbangan agar semakin siap dan strategis ketika memulai bisnis online.
1. Waspada Ancaman Kejahatan Siber
Kemudahan dan pengalaman berbisnis yang lebih simpel dengan menggunakan platform pihak luar tetap berisiko akan faktor keamanan. Kemungkinan adanya pencurian identitas maupun produk dan layanan yang disalahgunakan bisa dilakukan oleh oknum-oknum tidak bertanggung jawab.
Misalnya, secara langsung maupun tak langsung kompetisi yang tidak sehat membuat kompetitor Anda berusaha untuk menyerang privasi dan menjual informasi yang Anda miliki. Hal ini tentunya dapat merugikan konsumen maupun usahawan dan keberlangsungan bisnis ke depannya.
Pembagian Kontrol dan Biaya dengan Provider Lain
Ketika bergabung di marketplace, maka kontrol operasional dan logistik tidak sepenuhnya di tangan usahawan. Membuka bisnis di marketplace dan media sosial membuat pelaku usaha harus tunduk kepada kebijakan yang berlaku.
Seluruh kebijakan harus dipahami mulai dari persentase monetisasi yang didapat dan biaya tambahan lainnya yang mungkin diubah secara tiba-tiba, dan kendala teknis yang tidak dapat diperbaiki sendiri.
Persaingan Semakin Ketat
Dunia usaha tidak pernah lepas dari kompetisi. Pun demikian di ranah digital. Kompetisi pasar yang tinggi membuat usahawan harus mengatur strategi yang tepat agar dapat dilirik oleh pembeli.
Apa lagi, baik dalam media sosial maupun marketplace, ada yang dinamakan algoritma. Ini menentukan apakah toko Anda bisa terlihat secara luas oleh calon pelanggan.
Nyatanya, kemungkinan produk atau brand Anda akan kurang terdengar dan berkembang sangatlah besar disebabkan munculnya produk yang sama dengan harga yang bisa jadi lebih murah.
Itu mengapa usahawan berlomba memperbanyak followers dengan tujuan untuk memperluas jangkauan promosinya ataupun agar bisa muncul pada pencarian teratas di pencarian pembeli. "Jika tidak, mau tidak mau usahawan harus banyak mengeluarkan dana untuk beriklan, melakukan diskon, menggelar flash sale, maupun membayar influencer," jelas Mike.
Itu mengapa, Mike menambahkan, pelaku usahawan juga dapat memikirkan strategi untuk mengembangkan website sendiri, agar memiliki kontrol bisnis sepenuhnya tanpa mengandalkan pihak ketiga saja--seperti jika menggunakan jasa platform media sosial dan marketplace.
"Karena jika marketplace tutup maka itu sama saja seperti sebuah outlet miliknya ikut tutup. Ini yang tidak akan terjadi jika usahawan memiliki website usahanya sendiri," tandasnya.
(mdk/idr)