Organda kecam sikap plin plan pemerintah soal harga BBM subsidi
"Pemerintah konyol, dari menaikkan dan menurunkan (harga BBM) dalam waktu yang singkat," ujar Shafruan.
Tanggal 17 November 2014, pemerintah sepakat untuk menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi sebesar Rp 2.000 per liter. Harga premium menjadi Rp 8.500 per liter dan harga solar menjadi Rp 7.500 per liter.
Harga baru tersebut mulai berlaku pada 18 November 2014 pukul 00.00 WIB di seluruh Indonesia. Kenaikan tersebut langsung diumumkan Presiden Joko Widodo di Istana Negara.
Baru berjalan selama satu bulan, tanggal 31 Desember 2014, pemerintah sudah menurunkan harga BBM subsidi. Harga premium yang semula Rp 8.500 per liter turun menjadi Rp 7.600 per liter. Sementara, harga solar yang semula Rp 7.500 per liter menjadi Rp 7.250 per liter.
Ketua Organisasi Angkutan Darat (Organda) DKI Jakarta Shafruan Sinungan mengatakan pemerintah sangat konyol mempermainkan harga BBM subsidi. Padahal, BBM subsidi menyangkut hajat hidup orang banyak.
"Pemerintah konyol, dari menaikkan dan menurunkan (harga BBM) dalam waktu yang singkat," ujar Shafruan kepada merdeka.com di Jakarta, Selasa (1/1).
Menurut Shafruan, persoalan kuota BBM yang menjadi penyebab pemerintah menaikkan harga BBM tak masuk akal. Padahal, harga minyak dunia saat November lalu mengalami tren penurunan dan pemerintah malah menaikkan harga BBM subsidi.
"Kemudian, harga turun terus dan bisa dibilang hitungannya Premium di bawah Rp 8.000 per liter baru diturunkan. Harusnya pemerintah mikirkan itu. Kalau alasan kuotanya mau habis itu konyol," pungkas dia.
Baca juga:
Rakyat was-was soal keputusan pemerintah hapus subsidi Premium
Jokowi sudah turunkan BBM, politikus ini masih mencibir
Ahok tak setuju langkah Jokowi turunkan harga BBM
Menteri BUMN: Harga turun, kalau BBM langka getok Pertamina
Cabut subsidi premium, Wapres JK sebut pemerintah tetap patuh UU