Orang Indonesia rata-rata belanja 400 kali dalam setahun
Tingginya konsumsi tidak otomatis menggambarkan peningkatan daya beli masyarakat.
Lembaga riset pemasaran Kantar Worldpanel Indonesia melansir survei merek produk konsumsi paling laris di Tanah Air sepanjang 2012. Dari penelitian tersebut, pola konsumsi masyarakat turut dipetakan.
General Manager Kantar Indonesia Lim Soon Lee menyatakan, tingkat konsumsi masyarakat Indonesia sangat tinggi. Dalam setahun, dari 7.000 keluarga yang diteliti, terlihat konsumen Indonesia berbelanja kurang lebih 400 kali setahun.
"Keseringan belanja masyarakat Indonesia tinggi, rata-rata 400 kali dalam setahun. Sehari mereka bisa belanja dua kali sehari, ke warung atau ke minimarket," ungkapnya di kantornya, Kebayoran Baru, Jakarta, Selasa (7/5).
Tingginya konsumsi tidak otomatis menggambarkan peningkatan daya beli masyarakat. Lim mengatakan, dari 10 merek produk konsumsi paling tinggi se-Indonesia, banyak yang terbantu karena memasarkan produk dalam jenis sachet.
Dari analisis Kantar, hal itu menggambarkan bahwa daya beli masyarakat masih rendah. Mereka memutuskan membeli sachet, meski bungkus atau kemasan besar sebetulnya lebih murah dari segi selisih akumulasi harga.
"Karena small pack size, konsumen di Indonesia jadi lebih sering belanja, misalnya untuk shampo, dari total penjualan, 50 persen dari sachet. Jadi mungkin itu menunjukkan daya beli masyarakat masih rendah. Mereka memilih menyesuaikan budget," papar Lim.
Di Indonesia, merek paling laris tahun lalu adalah Sedaap, mi instan maupun kecap, dibeli 2,6 miliar unit per keluarga. Disusul Indomie dengan penjualan 2,03 miliar. Di tempat ketiga adalah Masako, per keluarga membeli produk bumbu ini 31 kali setahun.
Lim menyebutkan, riset yang dilakukan pihaknya melibatkan 7.000 keluarga sample, dari 9 kota besar di Indonesia, di Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi. Survei dilakukan sepanjang tahun, dengan meneliti pembelian rumah tangga, mengumpulkan bungkus atau sachet produk tertentu.
Riset ini pertama kali dilaksanakan Kantar di Indonesia. Untuk riset global, Coca Cola menjadi merek paling laris sejagat. Penelitian Kantar dilakukan serentak di 32 negara.
(mdk/noe)