Omron luncurkan alat ukur tekanan darah konsumen menengah ke bawah
Omron luncurkan alat ukur tekanan darah konsumen menengah ke bawah. Para pengguna dapat memonitor perubahan tekanan darah secara mandiri lalu menyimpan data perubahan tekanan darah langsung ke ponsel pintarnya. Alat ini, menurut Asia, akan memudahkan pengguna ketika mengkonsultasikan kesehatan ke dokter.
PT Omron Healthcare Indonesia meluncurkan Pengukur tekanan darah digital, HEM-7280T. Guna menjangkau semua lapisan masyarakat, Omron telah menyediakan pengukur tekanan darah digital ini dalam berbagai kategori harga.
"Ada yang high, ada yang khusus untuk masyarakat menengah ke bawah. Sudah kita sebarkan ke berbagai outlet kita di seluruh Indonesia," ujar Commercial Managing PT Omron Healthcare Indonesia, Aria Verdin, dalam diskusi bertema "Wujudkan Otomatisasi di Indonesia", di Fairmount Hotel, Jakarta Pusat, Selasa (13/6).
Alat ini, lanjutnya, berfungsi untuk memudahkan masyarakat mengecek perkembangan kesehatannya setiap saat. Di mana, para pengguna dapat memonitor perubahan tekanan darah secara mandiri lalu menyimpan data perubahan tekanan darah langsung ke ponsel pintarnya.
"Ini memungkinkan pengguna memonitor data tekanan darah. Kita sesuaikan juga dengan life style. Jadi dapat dihubungkan ke smartphone untuk simpan data tekanan darahnya," ungkapnya.
Alat ini, menurut Asia, akan memudahkan pengguna ketika mengkonsultasikan kesehatan ke dokter. "Akan terlihat data hasil kita akan tersimpan. Jadi kalau kita butuh untuk memeriksa, maka kita bisa langsung memberikan kepada dokter data tekanan darah kita yang sudah kita ukur secara reguler secara mandiri di rumah," katanya.
Baca juga:
Siapa saja wanita yang berisiko terkena kanker serviks?
Enyahkan kutu rambut yang mengganggu dengan 5 bahan alami ini
5 Tips bikin puasa lancar bagi penderita diabetes
4 Tips agar menyusui tetap lancar meski sedang puasa
6 Makanan ini bunuh HPV, virus penyebab munculnya kanker serviks!
3 Keuntungan lakukan deteksi kanker serviks sejak awal
Cegah serangan kanker serviks dengan deteksi 9 gejalanya sejak dini