Nilai tukar Rupiah menguat bukti fundamental ekonomi RI membaik
Penguatan nilai tukar Rupiah disebabkan semakin minimnya ketidakpastian global.
Nilai tukar Rupiah terus menguat terhadap Dolar Amerika Serikat (USD). Di situs Bank Indonesia, Jakarta Interbank Spot Dolar Rate (Jisdor) menunjukkan angka Rp 13.029 per USD.
Analis dan Managing Partner Investa Saran Mandiri, Kiswoyo Adi Joe menjelaskan, penguatan nilai tukar Rupiah disebabkan semakin minimnya ketidakpastian global.
"Dari ekonomi kita ini fundamentalnya tidak jelek. Suku bunga The Fed juga sudah pasti, harusnya sudah tidak ada gejolak lagi," kata Kiswoyo kepada merdeka.com, Senin (7/3).
Bank Indonesia bakal merilis angka cadangan devisa Indonesia hari ini, Kiswoyo menilai, seharusnya dengan kondisi Rupiah menguat, cadangan devisa akan meningkat. Selain karena penguatan Rupiah, aliran dana asing yang masuk ke Indonesia juga dinilai cukup deras, terutama dari Jepang yang saat ini kondisi perekonomiannya sedang negatif.
"Cadev diharapkan naik, ada arus dana masuk, karena di Jepang kan lagi negatif ya. Sebenarnya, harga wajar Rupiah itu di angka Rp 11.500 sampai Rp 12.500, kemarin sampai nyaris Rp 14.000 karena memang kondisi globalnya juga sedang tidak pasti," jelas dia.
Lebih lanjut, Kiswoyo melihat, BI akan banyak melakukan intervensi pasar agar Rupiah tidak terlalu kuat. Hal ini untuk menghindari aktivitas impor kembali meningkat.
"BI kayaknya akan beli banyak karena BI mau mempertahankan rupiah di angka Rp 13.000 supaya impornya enggak naik lagi," tutup dia.
Baca juga:
Menko Darmin tak ingin nilai tukar Rupiah terlalu menguat
Pagi ini, Rupiah menguat dan sentuh level Rp 12.000-an per USD
Rupiah berhasil ditutup menguat di Rp 13.132 per USD
Darmin: Pemilik modal anggap investasi di Indonesia menjanjikan
Rupiah makin perkasa, nyaris sentuh level Rp 12.000-an per USD
Akhir pekan, Rupiah menguat 57 poin ke posisi Rp 13.152 per USD
Rupiah terus menguat ke level Rp 13.227 per USD