Ngabuburide Mandalika: Sensasi Menanti Buka Puasa di Sirkuit Kelas Dunia
Fenomena Ngabuburide Mandalika menawarkan pengalaman unik menunggu waktu berbuka puasa di Pertamina Mandalika International Circuit, mengubah sirkuit balap menjadi ruang publik yang inklusif dan menggerakkan ekonomi lokal.
Langit pesisir selatan Pulau Lombok perlahan berubah jingga saat jarum jam menunjukkan pukul 16.30 WITA di bulan Ramadhan 1447 Hijriah. Waktu tersebut bukan sekadar penanda sore, melainkan isyarat bagi warga untuk keluar dari rumah, mencari takjil atau menikmati suasana senja.
Sebagian masyarakat memilih cara berbeda untuk menunggu azan magrib, yakni dengan mengaspal di lintasan kelas dunia Pertamina Mandalika International Circuit. Aktivitas ini dikenal sebagai "Ngabuburide", sebuah fenomena khas Ramadhan di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Konsep unik ini memadukan ngabuburit dan berkendara, memberikan sensasi berada di sirkuit yang sama dengan para pembalap dunia. Inisiatif ini bertujuan menjadikan sirkuit balap eksklusif sebagai ruang publik inklusif bagi masyarakat luas.
Sirkuit Mandalika: Lebih dari Sekadar Arena Balap
Sirkuit sepanjang 4,3 kilometer dengan 17 tikungan di Mandalika kini tidak hanya menjadi panggung balap MotoGP tahunan, tetapi juga ruang publik yang lebih inklusif. Transformasi fungsi sirkuit ini memungkinkan masyarakat merasakan pengalaman unik di lintasan balap kelas dunia.
Direktur Utama Mandalika Grand Prix Association (MGPA), Priandhi Satria, menegaskan bahwa sirkuit ini tidak semata untuk ajang balap. "Promo Ramadhan ini kami hadirkan agar masyarakat dapat merasakan pengalaman di Sirkuit Mandalika dengan lebih terjangkau selama Ramadhan, tanpa mengurangi kualitas layanan. Kami berharap aktivitas ini dapat menjadi pilihan kegiatan positif selama bulan suci," ujarnya.
Selama periode Ramadhan, MGPA menghadirkan sejumlah program dengan tarif khusus untuk memperluas akses publik. Aktivitas "Lampaq di Sirkuit" ditawarkan Rp50.000 per orang dari harga normal Rp75.000, berlangsung setiap akhir pekan pada pagi dan sore hari.
Selain itu, terdapat "Taxi Ride" seharga Rp400.000 untuk dua lap dan "CBR 250 Experience" seharga Rp400.000 untuk tiga lap, yang dibuka setiap hari selama tidak ada agenda balap atau track day. Komunitas atau rombongan juga bisa menikmati "Track Experience" dengan potongan harga 15 persen selama Ramadhan.
Geliat Ekonomi dan Pariwisata di Bulan Suci
Meskipun Sirkuit Mandalika menjadi simbol baru Indonesia di mata dunia dengan sorotan global saat MotoGP, ajang tersebut hanya berlangsung setahun sekali. Tantangan utamanya adalah menjaga denyut ekonomi dan kunjungan wisata di luar kalender balap.
Program "Ngabuburide" menjawab sebagian tantangan ini dengan menciptakan ritme kunjungan yang lebih rutin, khususnya selama bulan Ramadhan. Arus kendaraan roda dua dan roda empat meningkat signifikan pada sore hari dibandingkan sebelum Ramadhan, memberikan alternatif ruang publik unik bagi warga.
Efek berantai dari aktivitas ini terasa hingga ke pelaku usaha lokal. Restoran, kafe, hotel, dan bazar UMKM di sekitar kawasan ikut merasakan lonjakan kunjungan, karena wisatawan yang datang untuk mengaspal biasanya melanjutkan dengan berbuka puasa di sekitar sirkuit.
Riyan, salah seorang pengunjung, mengungkapkan pengalamannya yang berbeda dari ngabuburit biasa. "Warga atau wisatawan harus memaksimalkan pengalaman tersebut untuk berkunjung ke Mandalika Circuit agar bisa menikmati fasilitas seperti lampaq, berkendara di sana, bisa drive dengan mobil ataupun motor," katanya, menunjukkan bagaimana sirkuit kini terasa lebih dekat dengan masyarakat.
Membangun Ekosistem Sport Tourism Berkelanjutan
Pengembangan KEK Mandalika sejak awal dirancang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di Lombok Tengah dan Nusa Tenggara Barat secara luas. Keberlanjutan program seperti "Ngabuburide" menjadi bagian dari strategi besar penguatan ekosistem pariwisata.
Secara nasional, tren sport tourism terus meningkat, dengan Kementerian Pariwisata mencatat sektor ini menjadi salah satu motor pemulihan pascapandemi. Mandalika berada di posisi strategis berkat kombinasi lintasan balap, pantai, dan budaya lokal yang dimilikinya.
Namun, inovasi berkelanjutan di luar program musiman Ramadhan tetap menjadi kunci. Sirkuit dapat dimanfaatkan oleh komunitas sepeda, lari, hingga otomotif sebagai ruang aktivitas terjadwal. Edukasi keselamatan berkendara, pelatihan mekanik muda, atau festival UMKM otomotif bisa menjadi agenda pendamping.
Pada akhirnya, "Ngabuburide" menunjukkan bagaimana infrastruktur olahraga kelas dunia tidak harus eksklusif. Ia bisa menjadi rumah bagi komunitas, ruang ekonomi bagi UMKM, sekaligus simbol nasionalisme yang membumi, menciptakan kebanggaan nasional dari ruang yang terbuka bagi rakyatnya.
Sumber: AntaraNews