LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. UANG

Nasib mobil listrik Indonesia bergantung China

Pendiri Asosiasi Perusahaan Pengolahan dan Pemurnian Indonesia (APPI) Jonatan Handojo mengatakan, saat ini bahan baku dan teknologi baterai, termasuk untuk mobil listrik dikuasai oleh China. Salah satunya nikel yang merupakan bahan baku baterai untuk kendaraan tersebut.

2018-05-30 13:27:56
mobil listrik
Advertisement

Pemerintah diharapkan bisa menarik produsen baterai asal China untuk membangun pabrik di Indonesia. Hal ini guna memuluskan pengembangan mobil listrik di dalam negeri.

Pendiri Asosiasi Perusahaan Pengolahan dan Pemurnian Indonesia (APPI) Jonatan Handojo mengatakan, saat ini bahan baku dan teknologi baterai, termasuk untuk mobil listrik dikuasai oleh China. Salah satunya nikel yang merupakan bahan baku baterai untuk kendaraan tersebut.

‎"Ini dikuasai oleh China. Ini yang menjadi persoalan. Ketika kita ingin membuat baterai sendiri, cari bahan bakunya nikel harus 100 persen murni, musti beli dari China," ujar dia di Kantor Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Jakarta, Rabu (30/5).

Advertisement

Dia mengungkapkan, sebenarnya Indonesia memiliki sumber daya nikel yang cukup melimpah. Namun sayangnya, Indonesia belum menguasai teknologi pengembangan baterai berbahan baku nikel.

"Meski kita punyanya Vale. Itu barang dari Sulawesi Tengah dikirim ke Jepang, kadar nikelnya 78 persen. Di Jepang diolah, nikelnya tidak diambil, tapi komponen lain yang lebih mahal, namanya mineral tanah jarang. Nikelnya dikirim ke China, dimurnikan untuk menjadi 100 persen. Karena dia punya limbah bukan B3, tapi B12, lebih pekat racunnya. Jadi nikel 100 persennya bisa beli dari China," jelas dia.

Selain nikel, bahan baku baterai lain seperti kobalt dan lithium juga dikuasai China. Dengan posisi seperti ini, semakin sulit bagi Indonesia memproduksi sendiri baterai untuk mobil listrik di dalam negeri.

Advertisement

‎"Kobalt, tidak ada di Indonesia. Adanya di Afrika Barat. Seluruh kobalt di Afrika Barat sudah dibooking oleh China. Sekarang tinggal lithium. Ini juga seluruhnya di-booking oleh China. Semua China. Jadi China ini sudah menjadi produsen yang luar biasa untuk produk baterai baik lithium maupun nikel," kata dia.

Jonatan menyatakan, pihaknya telah melaporkan hal ini kepada Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto. Agar program pengembangan mobil listrik ini tetap bisa berjalan secara efisien, maka mau tidak mau Indonesia harus mengundang produsen baterai China untuk membangun pabriknya di dalam negeri.

"Arahan Pak Menteri, bawa saja pabrik-parik China suruh dibangun di Indonesia, kerja sama dengan swasta di sini untuk membuat baterai di indonesia. Karena bahan baku dan teknologinya sudah dikuasai China. Kita mau tidak mau bersahabat dengan China. Sistem kerja samanya dia bikin di sini, kita beli untuk membantu perakitan mobil-mobil listrik di sini. Kita tidak bisa menjadi produsen baterai secara utuh," tandas dia.

Reporter: Septian‎ Deny
Sumber: Liputan6.com‎

Baca juga:
Pengusaha beberkan tantangan bagi pemerintah kembangkan mobil listrik
Pemerintah diminta tak batasi produksi mobil berbahan bakar minyak di 2040
Mobil masa depan Indonesia, berbahan bakar listrik hingga minyak limbah sawit
Ini pesan pengusaha agar 20 persen mobil gunakan listrik di 2025
Dukung program pemerintah, GIIAS 2018 hadirkan sederet mobil listrik
Pemerintah targetkan 20 persen produksi mobil nasional pada 2025 berjenis listrik
Industri minyak sudah uzur, Presiden Jokowi sebut ketergantungan dunia mulai meluntur

(mdk/bim)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.